Blog Pacar Merah adalah blog dimana kita dapat mengetahui sejarah, konsep, dan praktek daripada Sosialisme. Dalam blog ini kita dapat melihat seluk beluk dan perkembangan konsep Sosialisme. Di sini, saya akan sedapat mungkin untuk menjawab dengan tepat, segala pertanyaan yang berhubungan dengan Sosialisme. Selamat Membaca. SOSIALISME PASTI JAYA!!!
Rabu, 18 Maret 2020
ALIENASI PENDIDIKAN
"Aduh, nyong urung sinau acan koh" (Indonesia: aduh, aku belum belajar sama sekali koh) kataku terhadap teman-teman ku yang sedang belajar di depan kelas. Seperti biasa, untuk menyambut UTS (atau apapun itu namanya), beberapa siswa (mungkin termasuk saya) mendadak menjadi rajin untuk belajar. Hari itu akan diadakan tes mapel ekonomi, mapel yang cukup saya sukai. Karena saya belum belajar sama sekali, akhirnya saya pun hanya belajar ala kadarnya. Walaupun akhirnya, Puji Tuhan, Alleluya, Alhamdulillah, saya memeroleh nilai yang cukup baik.
Pada artikel ini, kita tidak akan membahas mengenai UTS atau yang serupa dengannya. Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai alienasi dalam pendidikan. Mengapa pada saat itu beberapa siswa menjadi mendadak rajin untuk belajar? Jawabannya mudah, tentunya agar nilai yang diperoleh mencapai batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ketika seseorang belajar semata-mata hanya untuk memeroleh nilai yang tinggi, maka ia telah mengalami alienasi dalam proses belajarnya. Belajar tidak menjadi sarana untuk mengembangkan diri, tetapi semata-mata hanya untuk memeroleh nilai, yang pada akhirnya nilai tersebut digunakan untuk mencari pekerjaan.
Dunia pendidikan memang tidak sama dengan dunia ekonomi, namun bukan berarti teori-teori ekonomi tidak dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam dunia pendidikan. Teori alienasi kerja yang dipopulerkan oleh Karl Marx ini menjelaskan keterkaitan antara manusia dengan produk aktivitasnya. Marx menyebut keterasingan (alienasi) sebagai proses historis di mana manusia semakin terasing dari alam dan dari produk dari aktivitas mereka. Sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai alienasi pendidikan, ada baiknya jika kita melihat terlebih dahulu konsepsi alienasi kerja secara lebih terperinci.
KETERASINGAN DALAM PEKERJAAN
Menurut Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar. Dalam pekerjaan, manusia dapat merealisasikan dirinya untuk menjadi nyata. Pekerjaan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Hewan bekerja atas dasar nalurinya saja, tidak lebih daripada itu. Namun, manusia bekerja secara bebas dan universal. Ia dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsungnya (misalnya melukis hanya untuk hobi atau untuk diberikan secara cuma-cuma). Kerja yang bebas dan sadar adalah ciri khas kerja manusia.
Karena pekerjaan adalah sarana perealisasian diri manusia, bekerja seharusnya menjadi kegiatan yang menggembirakan. Bekerja seharusnya memberikan kepuasan. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Bagi sebagian orang, khususnya kaum pekerja, bekerja adalah hal yang 'menakutkan'. Pekerjaan tidak mengembangkan mereka, justru malah menyiksa mereka. Mengapa demikian?
Menurut Marx, dalam sistem kapitalisme, orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata karena terpaksa, sebagai syarat agar dapat hidup. Pada tahap inilah, manusia mengalami alienasi dalam pekerjaan.
Dalam kapitalisme, kerja tidak menjadi sarana untuk merealisasikan hakekatnya yang bebas dan universal. Pekerjaan menjadi suatu kegiatan penuh paksaan. Pekerjaan bukan menjadi kebutuhan bagi manusia, melainkan manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di luar pekerjaan. Manusia bekerja agar tidak lapar. Dalam kapitalisme, pekerjaan manusia tidak mengembangkan dirinya, melainkan memiskinkan dirinya.
Tidak hanya teralienasi dalam kegiatannya, manusia pun teralienasi terhadap produk ciptaannya. Dalam kapitalisme, kaum pekerja terasingkan dari produk ciptaannya. Sebagai pekerja, ia tidak dapat memiliki hasil pekerjaannya. Produk yang dihasilkannya telah menjadi milik kaum kapitalis. Jika demikian, apa yang ia kerjakan tidak ada artinya bagi dirinya. "Semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia, dunia batinnya, menjadi miskin" kata Karl Marx dalam catatan filsafat ekonominya.
PELAJAR YANG TERALIENASI
Proses-proses alienasi pada diri para pekerja ini akhirnya menular dan terjadi di dunia pendidikan. Internalisasi logika kapital yang memandang segala sesuatu sebagai komoditi telah menjadikan pendidikan dipandang dari segi nilai tukarnya saja, yaitu sebuah sarana yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang kelak dapat menghasilkan keuntungan finansial.
Dalam sekolah, para pelajar dituntut untuk memeroleh nilai setinggi-tingginya dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Senang tidak senang dan mau tidak mau, ia harus menyelesaikan target memelajari begitu banyak materi pelajaran. Tidak penting apakah proses pendidikan bermakna bagi pelajar atau tidak, yang terpenting kemudian adalah menyelesaikan semua beban studi dan memberikan hasil minimal sama dengan standar. Inilah yang dinamakan Fromm dengan automaton, manusia tidak ubahnya seperti mesin. Manusia mengalami alienasi dalam pendidikannya.
Melihat hal ini, maka nampaknya alienasi yang dialami pelajar tidak ada bedanya dengan alienasi para pekerja. Para pelajar teralienasi dengan kerja mereka. Belajar adalah bagian dari pekerjaan manusia. Dalam sekolah, belajar tidak lagi menjadi sarana untuk mengembangkan diri, namun semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai. Seringkali para pelajar tertekan untuk mendapatkan nilai-nilai yang telah ditentukan. Akibatnya, banyak pelajar yang mengabaikan kegiatan belajar dan lebih mementingkan nilai. Nilai lebih tinggi kedudukannya dari kerja itu sendiri (belajar).
Tidak hanya itu, para pelajar juga teralienasi terhadap produk pikirannya (dalam hal ini hasil dan pengalaman yang mereka dapatkan selama menempuh pendidikan). Sangat sedikit pelajar yang mampu menjiwai materi pelajaran yang diberikan. Tidak ada internalisasi nilai-nilai pada materi menyebabkan ilmu yang diterima hanya sekedar angin lalu saja. Karena tidak tidak adanya internalisasi nilai-nilai, ilmu yang mereka terima menjadi tidak bermakna.
Pendidikan, sebagai sebuah indikator majunya suatu bangsa memang perlu mengalami revolusi secara besar-besaran jika kita memang masih menginginkan sebuah realitas yang lebih baik. Perombakan kurikulum secara progresif sangat dibutuhkan demi menghilangkan alienasi dalam pendidikan ini. Selain itu, meletakan dimensi humanisme dalam proses berpendidikan pun tak kalah penting. Karena setiap kegiatan manusia, baik itu politik, ekonomi, ataupun pengembangan teknologi, adalah bertujuan untuk kembali memuliakan manusia itu sendiri, dan bukanlah untuk kepentingan finansial semata yang entah akan menguntungkan siapa. Pendidikan harus dapat membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar