Minggu, 14 Juli 2019

GENJER-GENJER YANG SELALU BIKIN GEGER



"Anak-anak, seperti yang sudah ibu bilang kemarin, besok kalian akan presentasi. Dalam presentasi itu, kalian boleh memakai sebuah ilustrasi, baik itu ilustrasi audio maupun visual." Demikianlah kata guru saya, mengakhiri pelajaran IPS yang telah berlangsung. Setelah guru saya berkata demikian, riuhlah seisi kelas saya (yang pada saat itu, saya masih duduk di bangku SMP), yang menandakan bahwa setiap kelompok belajar sedang mendiskusikan rencana presentasi tersebut. Di tengah kegaduhan tersebut, tiba-tiba seorang teman saya mengangkat tangannya dan bertanya kepada guru itu, "Bu, boleh pakai lagu Genjer-genjer ngga?". Jawab guru itu, kepada teman saya, yang bernama Dito itu, "Ya kena, angger isa ya nganggo logo palu-arit sisan" (Bhs. Indonesia: ya boleh, kalau bisa ya pakai simbol palu-arit sekalian).

     Ya, lagu "Genjer-genjer" ini memang sangat lekat dengan ideologi komunisme, ideologi utama dari salah satu partai terbesar dimasa demokrasi terpimpin, PKI. Melalui film propaganda "Pengkhianatan G 30/S PKI", pemerintah Orde Baru telah berhasil menanamkan stigma buruk terhadap lagu ini. Lagu "Genjer-genjer" oleh mayoritas kalangan, ditempatkan sekelas dengan simbol palu arit. Berbahaya, subversif, dan bertentangan dengan Ketetapan MPRS XXV/1966.

     Setelah Soeharto dan Orde Baru tumbang, barulah semua mulai terang. Film Pengkhianatan murni fiksi, termasuk adegan Gerwani menyilet wajah para Jenderal sembari bersenandung "Genjer-Genjer." Meski sejarah September 1965 mulai benderang, namun lagu ini tetap berada di sisi gelap sejarah Indonesia. Masih sangat banyak orang yang menganggap bahwa lagu "Genjer-genjer" ini adalah lagu yang membawa unsur komunisme. Padahal, jika kita analisa kembali, lagu ini sama sekali tidak memiliki unsur komunisme.


SEJARAH LAGU GENJER-GENJER

Lagu "Genjer-genjer" dibuat sekitar tahun 1942. Syair lagu "Genjer-genjer" ini diciptakan oleh Muhammad Arief, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arief, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syair baru seperti dalam lagu genjer-genjer.

     Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sengsara dibanding sebelumnya. Ketika Jepang menjajah Indonesia, banyak warga kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan ‘genjer’ (Limnocharis flava), tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa, yang sebelumnya dikonsumsi itik.

     Lagu “Genjer-Genjer” menjadi lebih populer ketika lagu ini dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet, dan juga Lilis Suryani pada tahun 1962. Pada masa pemerintahan Sukarno, banyak musikus memainkan lagu ini di istana.

     Kepopuleran lagu ini lantas dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk berkampanye. Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitasnya. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Lagu yang menggambarkan penderitaan masyarakat desa ini lantas kembali populer di kalangan kelas bawah. Begitu lekatnya lagu ini dengan PKI, maka stempel sebagai lagu komunis pun melekat.

     Setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, beberapa media seperti Angkatan Bersendjata, koran Pantjasila, dan Berita Yudha memuat berita tentang secarik kertas berisi notasi lagu "Genjer-Genjer". Notasi dan lirik lagu di kertas itu berbeda dengan lirik aslinya. Media-media itu juga menurunkan berita bohong tentang penyiksaan para jenderal.

     Propaganda terhadap lagu "Genjer-Genjer" semakin langgeng karena film Pengkhianatan. Lagu itu kemudian menjadi sinonim PKI, dan karenanya dibenci sekaligus ditakuti. Utan Parlindungan dalam Mitos Genjer-Genjer: Politik Makna dalam Lagu (2014), menyebut lagu "Genjer-Genjer" sebagai, "bid'ah, larangan terkutuk yang menyetarakannya seperti hukum Tuhan, dalam kitab-kitab suci agama samawi" karena propaganda Orde Baru.


PENUTUP

Melihat bagaimana masih ada orang-orang yang ketakutan pada lagu "Genjer-Genjer" membuktikan setidaknya dua hal. Pertama, propaganda puluhan tahun Orde Baru masih kuat menancap di sebagian orang. Kedua, jalan menuju sejarah Indonesia yang terang masih amat panjang, dan tentu saja melelahkan. "Genjer-Genjer" menjadi salah satu indikatornya.

     Sudah menjadi keharusan kitalah untuk menjelaskan kembali, sejarah yang telah dipalsukan. Mengatakan bahwa lagu "Genjer-genjer" adalah lagu buatan PKI adalah sama mengatakan, bahwa lagu "Yang terlupakan" merupakan lagu karangan Ariel-Noah. Apakah ini benar? Tentu saja tidak, sebab sebelum Ariel-Noah memopulerkan kembali lagu ini, lagu ini telah ada.

     Memang benar bahwa PKI turut ambil bagian dalam memopulerkan lagu "Genjer-genjer" ini. Namun, hal ini bukan berarti bahwa lagu "Genjer-genjer" membawa unsur komunisme. Lagu "Genjer-genjer" adalah suara kesengsaraan rakyat. Lagu "Genjer-genjer" akan tetap dan selalu relevan, selama ketidakadilan masih terjadi!

Selasa, 09 Juli 2019

SOSIALISME ILMIAH



"Marxisme mengubah sosialisme menjadi sebuah pengetahuan ilmiah, tetapi ini tidak menghalangi beberapa ‘kaum Marxis’ untuk mengubah Marxisme menjadi utopisme." Demikianlah kata Leon Trotsky, dalam karyanya yang berjudul "Hasil dan Prospek".

     Dalam tulisan di atas, Trotsky menegaskan bahwa, Sosialisme, yang dulu hanya bersifat utopis belaka, yang dulu hanya berdasarkan nilai-nilai moral saja, kini telah menjadi Sosialisme yang ilmiah dan berdasarkan fakta yang objektif. Inilah yang membedakan Sosialisme Karl Marx dengan Sosialisme lainnya. Marx mendasarkan Sosialismenya pada penelitian syarat-syarat objektif perkembangan masyarakat.

     Klaim ini sangat penting untuk memahami teori Marx. Marx menolak pendasaran Sosialisme pada pertimbangan-pertimbangan moral. Sosialisme tidak akan datang karena dinilai baik atau karena kapitalisme dinilai jahat, melainkan karena, dan kalau, syarat-syarat objektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi terpenuhi.


SOSIALISME ILMIAH, SOSIALISME ALA KARL MARX

Sosialisme ilmiah atau Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat yang bernama dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat dan juga Timur, yang kemudian disatukan, disintesakan, oleh Marx menjadi dialektika materialisme. Sosialisme yang dicetuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dapat kita temui dalam buku-buku Marx, khususnya dalam bukunya yang berjudul "Manifesto Communist"

     Penalaran dialektis sendiri telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dan digunakan lagi oleh filsafat Jerman yang muncul di abad ke-18 dan berpuncak pada Hegel. Namun, Hegel adalah seorang idealis. Baginya, gagasan bukan cerminan dari kenyataan dan proses riil, tetapi sebaliknya, kenyataan dan perkembangannya adalah perwujudan dari ’Ide’ yang sudah ada sejak dulu. Akibatnya, sistem dialektika Hegelian terjatuh ke dalam kontradiksi yang tak bisa dipecahkan. Di satu sisi, ia memiliki proposisi pokok bahwa sejarah manusia merupakan sebuah proses perkembangan, yang karena wataknya, tidak bisa mencapai finalitas dalam sebuah ’kebenaran absolut,’ tetapi di sisi lain, ia mengklaim pemikirannya sebagai esensi dari kebenaran absolut itu. Dialektika, walau bagaimanapun, harus memberi ruang bagi perkembangan pengetahuan dan tidak bisa menutupnya.

     Kontradiksi yang ada dalam idealisme Jerman, membawa kita kembali ke ’materialisme modern’ yang pada dasarnya sudah dialektis, karena merupakan refleksi dari alam yang juga dialektis. Engels optimis bahwa jika tiap cabang ilmu memperjelas posisinya dalam totalitas hal-ihwal, maka suatu ilmu khusus tentang totalitas, yakni filsafat, tidak lagi diperlukan. Apa yang tersisa dari filsafat hanyalah ilmu tentang pikiran dan hukum-hukumnya, yaitu logika formal dan dialektika. Sementara itu, terkait dengan konsepsi sejarah, fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa semua sejarah―dengan pengecualian fase primitif―adalah sejarah perjuangan kelas. Dan kelas-kelas yang bertarung merupakan hasil dari cara produksi dan pertukaran yang berlaku. Struktur ekonomi adalah basis yang mengondisikan keseluruhan suprastruktur hukum, politik, agama, filsafat dan berbagai gagasan manusia. Gagasan manusia dikondisikan oleh keberadaannya, dan bukan keberadaan manusia yang dikondisikan oleh gagasannya. Inilah konsepsi materialis tentang sejarah.

     Sejak adanya konsepsi materialis tentang sejarah, sosialisme tidak lagi dianggap hanya sebagai temuan pikiran, tetapi merupakan hasil dari perjuangan kelas proletariat dengan borjuis. Tugas sosialisme, dengan demikian, bukan merumuskan sebuah sistem kemasyarakatan yang sesempurna mungkin, tetapi mengamati kondisi sosial-historis yang memunculkan kelas-kelas tersebut beserta antagonisme mereka, dan menemukan dalam kondisi ekonomi masyarakat, solusi untuk mengakhiri antagonisme tersebut.


     Dalam menyadari asal sosialisme sebagai resolusi dari kontradiksi ini dan mengaplikasikan pemahaman yang teliti terhadap kapitalisme, Engels menegaskan bahwa sosialisme telah melepaskan diri dari keadaan primitif dan menjadi ilmiah. Perubahan dalam sosialisme ini dilihat sebagai perimbangan terhadap perubahan dalam biologi kontemporer yang dilakukan Charles Darwin dan pemahaman evolusi oleh seleksi alam; Marx dan Engels melihat pemahaman baru biologi ini sama pentingnya dengan pemahaman baru sosialisme, dan sebaliknya.

     Keberadaan sistem kapitalis yang menginginkan keuntungan dan hak kepemilikan yang selebih-lebihnya ditandingi oleh Marx dengan sosialisme ilmiahnya yang bertujuan mengubah sejarah masyarakat menjadi tatanan yang menyelaraskan kebersamaan. Kapitalis yang muncul atas kesadaran adanya modal yang dapat dilebih besarkan lagi kemudian dilawan oleh proletar sebagai kelas bawah demi berjuang untuk sesamanya.

     Marx menggaris bawah kekayaan dan keuntungan bukanlah tujuan kaum proletar melawan kaum kapitalis. Tetapi perebutan alat produksi demi menjamin terjadinya suatu sistem dimana merekalah yang memiliki alat-alat produksi itu secara bersama-sama dan kelas yang berada diatas tidak ada lagi juga tidak adanya kelas yang berada dibawah.

     Semuanya sama rata. Dengan kemenangan kepemilkan alat produksi di tangan kaum yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa. Tidak adanya alat kepemilikan maka alat produksi dimiliki secara bersama dan hasil produksi digunakan bersama. Semua memiliki yang dibutuhkan. Semua orang bekerja untuk sesama.

Sabtu, 06 Juli 2019

MENGENAL LAGU INTERNATIONALE





"Bangunlah kaum yang terhina.
 Bangunlah kaum yang lapar,
 Kehendak yang mulia dalam dunia
 senantiasa bertambah besar"
   
     Itulah penggalan lirik dari salah satu lagu yang sering saya nyanyikan, Internationale. Di suatu hari, saat saya sedang asyik menyanyikan lagu tersebut, ada seorang teman saya yang berkata, "Woy! Lu ngapain nyanyi lagu itu?!? Lu Komunis ya?!?". Namun, benarkah pernyataan teman saya ini, bahwa lagu Internationale adalah lagu komunis? Mari kita lihat pernyataan Soekarno ini:
   
     “Apa lagu Internasionale itu hanya dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee, PKI ! God dorie! (bahasa Belanda. Jika di artikan, kurang lebih artinya seperti: Astaga) Lagu Internasionale dinyanyikan di London, di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow, di Peking, di Tokio. Pendek, dimana-mana ada kaum buruh mengadakan serikat, menyanyikan lagu Internasionale.”

(dikutip dari buku « Revolusi belum selesai , jilid II, halaman 313).

     Pernyataan Soekarno di atas membuktikan bahwa lagu "Internationale" bukanlah lagu bagi orang komunis saja, namun lagu bagi "Seluruh buruh!". Namun, apakah lagu Internationale itu? Dan, mengapa lagu ini sering dicap negatif?

SEJARAH LAGU "INTERNATIONALE"

Internasionale awalnya ditulis dalam bahasa Prancis dengan judul: "L’Internationale". Lagu Internationale ini ditulis oleh seorang buruh kayu asal Prancis, Eugène Pottier. Eugène menulis syairnya enam bait. Lagu ini dipublikasikan pada tanggal 30 Juni 1871.
   
     Eugène Pottier sendiri adalah anggota Komune Paris yang terkemuka, yang merupakan pemerintahan klas buruh yang pertama kali di dunia, yang berkuasa selama 72 hari di Prancis . Eugène Pottier menciptakan lagu "L’Internationale" itu pada saat sebulan sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, atau menurut Lenin, “boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah......”.
   
     Syair Internationale terinspirasi oleh kemenangan Komune Paris, selama 72 hari. Inti lagunya menyatakan, kelas-kelas tertindas dan terhisap di dunia harus berjuang dan merebut hak-haknya dengan bersandar pada kekuatannya sendiri serta menciptakan dunia yang lebih adil. Mulanya Internasionale dinyanyikan oleh berbagai kelompok antikapitalisme dengan berbagai kecenderungan ideologi. Internationale kemudian diadopsi oleh Internasionale II dan menjadi anthem Uni Soviet sejak 1922-1944.

     L’Internationale telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia. Ada bahasa Inggris, Spanyol, Afrika, Arab, Melayu, Indonesia, dll. Diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Internationale, ke bahasa Arab menjadi Nasyidu al-Umamiyah, ke bahasa Belanda menjadi De Internationale, dan ke bahasa Indonesia menjadi Internasionale.


MASUKNYA LAGU INTERNATIONALE KE BUMI NUSANTARA

Internasionale sudah dikenal luas di Indonesia sejak tahun 1920-an. Terjemahan pertama ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara. Hasil terjemahan Ki Hadjar Dewantara tersebut kemudian dipublikasikan dalam Sinar Hindia No. 87, 5 Mei 1920. Di surat kabar tersebut pula, dalam nomor penerbitan yang sama, Dewantara menerjemahkan Marsch Socialist. Publikasi dua terjemahan tersebut dimaksudkan untuk memperingati 1 Mei, sebagai “Hari Raja oenteok segala kaoem Socialist”. Akan tetapi, terjemahan itu dicela oleh Komunis Internasional karena dianggap telah menghilangkan roh proletariat.

     Dari terjemahan Ki Hajar Dewantara, Internasionale tersebar di kalangan gerakan rakyat. Lagu tersebut bersama lagu "Darah Rakyat" kerap dinyanyikan di sekolah-sekolah yang dibangun oleh kaum pergerakan, meramaikan pemogokan dan rapat-rapat umum. Dengan merujuk pada hasil terjemahan Ki Hajar Dewantara dan mengubah beberapa kalimatnya, PKI menetapkan Internasionale sebagai mars partai.


PENUTUP

Melihat hal itu semua, maka kiranya untuk selanjutnya di Indonesia pun lagu Internasionale juga perlu dipakai sebagai pembangkit semangat perjuangan gerakan buruh, dan mendorong persatuan serta menggalang setiakawan dalam melawan segala macam ketidak-adilan dan pemerasan oleh kalangan kapitalis reaksioner nasional maupun internasional, yang bersekongkol dengan para penguasa. mengumandangkan lagu Internasionale merupakan penghormatan kepada pengorbanan para Digulis yang banyak meninggal di pembuangan Tanah Merah dan para perintis kemerdekaan lainnya. Menyanyikan lagu Internasionale bisa juga berarti menunjukkan sikap marah dan kebencian terhadap segala bentuk ketidakadilan. Di samping itu, mengumandangkan lagu Internasionale juga berarti ikut melestarikan jiwa perjuangan revolusioner Bung Karno.


Jumat, 05 Juli 2019

SOSIALISME UTOPIS



“Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’. ” Demikianlah Kata-kata Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso-TAVIP”, pada tanggal 17 Agustus 1964.

     Dalam pidatonya, Bung Karno menjelaskan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan Bangsa Indonesia. Bagi Bung Karno, Kemerdekaan itu hanyalah 'jembatan emas' yang menghantarkan Indonesia kepada fase yang lebih adil. Ia hanyalah penghubung menuju cita-cita masyarakat tanpa eksploitasi sesama manusia, Sosialisme Indonesia.

     Namun, apakah Sosialisme itu? Jika anda bertanya hal ini kepada beberapa orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Mungkin, ada yang menjawab bahwa, "Sosialisme adalah ideologi yang dicetuskan oleh Karl Marx", adapula yang mungkin mengatakan, "Sosialisme adalah sistem ekonomi di negara Uni Soviet, RRC, Vietnam, dll". Namun, benarkah demikian? Bagaimana sejarah konsep Sosialisme? Dan, bagaimana konsepsi awal Sosialisme?


SOSIALISME UTOPIS, SEBAGAI SOSIALISME 'PURBA'

     Banyak orang beranggapan bahwa Sosialisme berasal dari ajaran Karl Marx (Marxisme). Hal ini keliru, sebab jauh sebelum Marx sudah ada pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan tentang kebersamaan dan kolektivisme. Banyak dari gagasan-gagasan yang akan menjadi pokok pemikirannya, diperolehnya dari pemikiran para pemikir Sosialis sebelumnya. kebersamaan dan kolektivisme.

     Pada dasarnya, Sosialisme adalah falsafah, ideologi, cita-cita, ajaran, gerakan, politik, atau sistem ekonomi politik,  yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepemilikan kolektif, atas kepemilikan pribadi.

     Gagasan atau ide Sosialisme sendiri, setidaknya telah ditemukan dalam kebudayaan Yunani kuno. Kasta para Filsuf, yang menurut Plato harus memimpin negara tidak boleh memunyai milik pribadi, dan tidak berkeluarga, memiliki segalanya bersama, dan hidup menurut aturan yang sama. Namun, konsep Sosialisme ini terbatas pada kasta calon pemimpin. Masyarakat sendiri tertata secara hierarkis dan tentu saja, bebas memunyai hak milik.

     Perkembangan dari ide Sosialisme pun terus berlanjut hingga Revolusi Perancis meletus. Berbeda dari konsepsi sebelumnya, ide Sosialisme modern ini mengambil motif barunya. Motif-motif Sosialis di abad pertengahan yang berkaitan erat dengan paham-paham religius tertentu, kini mengambil motif barunya yaitu keadaan sosial. Ide Sosialisme modern ini muncul sebagai reaksi dari kegagalan Revolusi Perancis dalam membawa kesejahteraan. Cita-cita revolusi Perancis yakni kebebasan, persamaan, dan persaudaraan dianggap telah gagal. Francois-Noel Babeuf adalah orang yang dianggap pertama kali menyuarakan ide Sosialisme modern ini. Perjuangan Babeuf ini pun diikuti pemikir-pemikir Sosialisme modern lainnya.

     Beberapa tahun kemudian, Karl Marx muncul dengan ide-ide Sosialisme yang lebih ilmiah. Ia mendasarkan Sosialismenya dengan hukum-hukum perkembangan masyarakat. Karl Marx sendiri menggunakan kata "Sosialisme Utopis" untuk menjelaskan ide Sosialisme sebelum dirinya. Sosialisme ini dikatakan "Utopis" sebab pemikiran-pemikiran mereka hanya dituangkan dalam bentuk ide atau gagasan saja, tetapi tidak direalisasikan dalam dunia yang objektif.

     Kata "Utopis" sendiri berasal dari sebuah buku yang berjudul "Tentang keadaan negara yang terbaik dan tentang pulau yang baru Utopia", yang ditulis oleh Thomas More, seorang Kanselir Inggris di masa pemerintahan Raja Henry VIII.

     Di pulau Utopia tidak akan ada lagi milik perorangan, semua orang menikmati pendapatan yang sama, dan semua orang harus bekerja. Masing-masing dari mereka bekerja di tanah atau di bengkel sendiri, tetapi bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai karyawan komunitas. Waktu kerja harian adalah 6 jam. Kewajiban belajar yang umum bagi anak laki-laki maupun perempuan, serta kebebasan agama yang mutlak. Namun, dalam pulau ini, masalah-masalah politik tidak boleh dibahas secara umum.

     Engels menjelaskan bahwa kaum Sosialis Utopis menentang organisasi masyarakat yang sudah ada, tetapi tidak dapat menerangkannya. Kaum Sosialis Utopis hanya dapat menolaknya sebagai sesuatu yang immoral. Filsuf Richard Schmitt, dalam bukunya Introduction to Marx and Engels, coba meringkas kirtik Marx dan Engels terhadap kalangan sosialisme utopis ini ke dalam lima poin berikut: pertama, karena kapitalisme belum begitu berkembang pada tahun 1880, saat ketika Fourier dan Saint-Simon menulis, dan pada 1830an ketika Owen coba mempraktekkan keyakinannya, maka kalangan utopian ini tidak memahami apa itu kapitalisme; kedua, sebagai konsekuensinya, mereka tidak mengerti tentang perjuangan kelas; ketiga, sebagai gantinya mereka kemudian mengandalkan aksi-aksi pemimpin agung – biasanya adalah diri mereka sendiri – guna menggantikan aksi-aksinya kaum proletariat; keempat, kalangan utopis ini tidak bisa mengerti hubungan antara yang dipikirkan oleh rakyat dengan kondisi-kondisi material dimana pemikiran mereka itu muncul; dan kelima, kalangan utopian ini gagal melihat bahwa perubahan-perubahan sosial itu hanya mungkin jika kondisi-kondisi bagi perubahan itu tersedia. Misalnya, keinginan rakyat untuk melakukan perubahan sosial itu jelas sangat penting, tapi sekaligus tidak mencukupi untuk melakukan perubahan. Bagi Marx dan Engels, sebuah perubahan sosial dan politik yang luar biasa, hanya mungkin jika sistem politik dan ekonomi telah siap untuk terjadinya perubahan itu.


PENUTUP

Walaupun pemikiran dari Sosialisme Utopis ini tidak sepopuler ajaran Sosialisme Ilmiah dari Karl Marx, namun peran Sosialisme Utopis ini tidak perlu diragukan lagi. Sosialisme Utopis ini terbukti berkontribusi besar bagi pemikiran Karl Marx, antara lain anggapan bahwa revolusi sosial merupakan akibat dari akumulasi kekayaan di satu pihak dan kemiskinan di pihak lain, analogi antara keterasingan religius dan ekonomi, mengenai kesadaran proletariat, dll.

Kamis, 04 Juli 2019

MENGENAL KEMBALI MARHAENISME, MARXISME ALA INDONESIA ( II )




"Nah, lantas urutan yang lain ialah, dua orang menamakan dirinya Marhanis. Tetapi tidak menjalankan Marxisme di Indonesia, apakah dia Marhaenisme apa tidak? Saya bilang bukan! Orang demikian itu Marhaenisme gadungan ! saudara-saudara." Demikianlah ucap Bung Karno dalam Pidatonya di depan peserta Kongres Partindo, di Gedung Olahraga, Jakarta, tanggal 26 Desember 1961.

     Jika kita membaca pernyataan Bung Karno ini, maka nampaknya, hubungan antara Marhaenisme dengan Marxisme tidak bisa dipisahkan, DAN MEMANGLAH DEMIKIAN!

     Bung Karno sendiri menyatakan bahwa " untuk dapat memahami Marhaenisme ajaran saya itu, kita minimal, paling sedikit, harus menguasai dua pengetahuan:Pertama: Pengetahuan tentang situasi dan kondisi Indonesia, dan Kedua : Pengetahuan tentang Marxisme." (Amanat kepada Front Marhaenis pada tanggal 4 Juli 1963)

     Jika dilihat, kontribusi Marxisme bagi pemikiran Bung Karno ini memang tidak perlu diragukan lagi. Bung Karno sendiri menyebut marhaenisme sebagai “marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia, is het in Indonesie toegepaste marxisme (Kursus Pancasila, 1958). Jadi, marhaenisme adalah marxisme ala Indonesia.

     Tetapi di tahun 1966, setelah kontra-revolusi mulai berkuasa, keluar Tap MPRS nomor XXV tentang pelarangan Marxisme. Juga Tap MPR XXVI/ MPRS/ 1966 tentang Pembentukan Panitia Peneliti Ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno yang berusaha membersihkan ajaran-ajaran Bung Karno dari marxisme. Kemudian, pada bulan Desember 1967, Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pimpinan Osa Maliki dan Usep Ranawidjaja, yang disokong rezim Orde Baru, membuat Pernyataan Kebulatan Tekad untuk membersihkan marhaenisme dari marxisme. Dan sejak itu marhaenisme di tangan PNI mulai kehilangan api-nya.

     Efeknya sangat merusak. Tanpa memiliki pengetahuan marxisme, tidak mungkin bisa menyelami ajaran Bung Karno secara mendalam. Tanpa marxisme, ajaran Bung Karno kehilangan “api”-nya. Tidak mengherankan, ajaran Bung Karno yang terdengar di telinga kita sekarang ini tak lebih dari sebuah frase-frase atau slogan-slogan heroik tanpa isi dan makna yang berarti.

     Dalam artikel ini, kita akan melihat lagi, ajaran Marhaenisme yang telah lama hilang. Dalam analisis ini, kita akan memfokuskan diri dalam 2 ajaran Bung Karno, yaitu Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi.


2 PILAR UTAMA MARHAENISME


A. Sosio-Nasionalisme

Seperti yang sudah kita lihat tadi, kontribusi Marxisme bagi pemikiran Bung Karno tidak perlu diragukan lagi. Bung Karno sendiri, pada tanggal 28 Februari 1966, di hadapan peserta Sapta Warsa Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), pernah dengan terang-terangan mengakui dirinya seorang marxis. “Aku tegaskan dengan tanpa tedeng aling-aling, ya, aku marxis,” kata Bung Karno.

     Sebagai seorang Marxis yang nasionalis, nasionalismenya Bung Karno tentu berbeda dengan nasionalisme pada umumnya. Bung Karno sendiri pernah berkata: "Marxisme itulah yang membuat saya punya nasionalisme berlainan dengan nasionalismenya nasionalis Indonesia yang lain, dan Marxisme itulah yang membuat saya dari dulu benci fasisme.”

     Bung Karno sendiri menamakan nasionalismenya dengan nama sosio-nasionalsime, yaitu nasionalisme yang mencari selamatnya massa-rakyat.

     Bung Karno mengatakan, cita-cita sosio-nasionalisme adalah memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masyarakat, sehingga masyarakat yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada lagi kaum tertindas, tidak ada kaum yang celaka, dan tidak ada lagi kaum yang papa-sengsara.

     Karena itu, kata Bung Karno, sosio-nasionalisme adalah nasionalismenya kaum marhaen. Dengan demikian, sosio-nasionalisme menentang borjuisme dan keningratan. Inilah tipe nasionalisme yang menghendaki “masyarakat tanpa klas”.

     Sebagai konsekuensinya, sosio-nasionalisme menganggap kemerdekaan nasional bukan sebagai tujuan akhir. Bung Karno berulang-kali menyatakan kemerdekaan hanya sebagai “jembatan emas” menuju cita-cita yang lebih tinggi.

     Dalam tulisannya, “Mencapai Indonesia Merdeka”, yang diterbitkan pada tahun 1933, Bung Karno menegaskan bahwa tujuan pergerakan nasional kita mestilah mengarah pada pencapaian masyarakat adil dan sempurna, yang di dalamnya tidak ada lagi penghisapan. Berarti, tidak boleh ada imperialisme dan kapitalisme.

     Agar kemerdekaan politik itu tidak disabotase oleh imperialisme, ataupun oleh kaum borjuis dan feodal di dalam negeri, maka kekuasaan politik indonesia pasca merdeka haruslah dipegang oleh kaum marhaen atau massa-rakyat Indonesia. Inilah esensi dari sosio-demokrasi (yang akan kita bahas dalam bab selanjutnya).

     Bung Karno kuat-kuat berpesan, “dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya."

     Karena sosio-nasionalisme bervisi “social conscience of man” (budi nurani sosial manusia), maka semangat sosio-nasionalisme adalah internasionalisme. Dalam pidato 1 Juni 1945—lahirnya Pancasila, Soekarno menjelaskan hubungan dialektik antara nasionalisme Indonesia dan internasionalisme: Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme.

     Dengan demikian, sosio-nasionalisme bisa disederhanakan sebagai berikut:
(1) sosio-nasionalisme merupakan ajaran politik yang memperjuangkan masyarakat tanpa klas alias masyarakat adil dan makmur.
(2) sosio-nasionalisme memberi kerangka pada revolusi Indonesia agar tak berhenti pada revolusi nasional semata, tetapi harus berlanjut pada transisi menuju sosialisme.
(3) Sosio-nasionalisme meletakkan semangat kebangsaan negeri terjajah berjalan seiring dengan cita-cita internasionalisme.


B. Sosio-Demokrasi

Dalam bacaan di atas, kita melihat bahwa Bung Karno telah menegaskan, bahwa tujuan pergerakan nasional Indonesia haruslah menuju pada masyarakat adil dan makmur, yang didalamnya tak ada lagi penindasan dan penghisapan. Artinya, masyarakat masa depan itu di dalamnya tak ada lagi kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme.

     Karena itu, Bung Karno menggaris-bawahi, kemerdekaan nasional alias Indonesia merdeka hanyalah jembatan emas. Kemerdekaan itu hanyalah penghubung menuju cita-cita masyarakat tanpa imperialisme dan kapitalisme.

     Tetapi Bung Karno mewanti-wanti, “dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya.

     Maksudnya, jangan sampai kaum marhaen yang mati-matian berjuang mendatangkan kemerdekaan, eh, malah si borjuis dan si feudal yang menikmati. Jangan seperti di Eropa, pasca revolusi anti-feodal, dimana kaum buruh dan rakyat jelata ikut dalam revolusi, tetapi hasilnya dinikmati oleh kaum borjuis.

     Untuk itu, supaya tidak hanya menjadi “si pengupas nangka” alias kena getahnya saja, maka politieke macht (kekuasaan politik) dalam Indonesia merdeka itu harus di tangan kaum marhaen. “Dengan politieke macht di tangannya, dengan senjata pamungkas di tangannya, maka kaum marhaen gampang membinasakan stelsel kapitalisme dan memelantingkan imperialisme dari pundaknya,” ujar Bung Karno.

     Nah, di sinilah esensi sosio-demokrasi. Sosio-demokrasi secara harfiah berarti demokrasi massa-rakyat. Sosio-demokrasi berdiri dengan kedua kakinya, yaitu demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, di tengah-tengah rakyat. Dengan demikian, sosio-demokrasi berusaha menggabungkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.

     Dengan sosio-demokrasi, ujar Bung Karno, kaum marhaen akan terpastikan memegang kekuasaan politik. Pada saat itu, katanya, semua urusan—politik, diplomasi, pendidikan, pekerjaan, seni, kebudayaan, dan lain-lain—berada di bawah kontrol rakyat. Rakyat terlibat langsung dalam memutuskan, menjalankan, dan mengontrol semua kebijakan-kebijakan politik negara. Inilah demokrasi politik.

     Pada saat bersamaan, di lapangan ekonomi, semua perusahaan besar berada di tangan negara (negara di sini adalah rakyat); semua hasil perusahaan-perusahan itu terutama sekali untuk memenuhi kebutuhan rakyat; proses produksi dikontrol dan ditentukan oleh rakyat. Dengan demikian, kata Bung Karno, tak satupun perusahaan dan keuntungannya jatuh ke kantong borjuis. Inilah demokrasi ekonomi.

     Dengan demikian, sosio-demokrasi adalah pembentukan kekuasaan politik di tangan massa-rakyat dan pemilikan alat-alat produksi di tangan rakyat. Konsep sosio-demokrasi menggabungkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.

     “Dengan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu, maka nanti di seberangnya jembatan emas masyarakat Indonesia bisa diatur oleh rakyat sendiri sampai selamat—di bikin menjadi suatu masyarakat tanpa kapitalisme dan imperialisme,” tegasnya.

     Dengan sosio-demokrasi, Bung Karno sebetulnya mau menciptakan sebuah horizon politik yang berbeda dengan berbagai revolusi nasional di negara lain. Di banyak negara itu, revolusi nasional berakhir pada kemerdekaan ancsih. Alhasil, kaum borjuis nasional yang tampil sebagai penguasa sekaligus penindas baru. Sebaliknya, Bung Karno hendak mencegah capaian revolusi nasional Indonesia dicaplok oleh borjuis nasional.


PENUTUP

Kini, ada begitu banyak orang yang begitu mengagung-agungkan Bung Karno. Dalam kampanye pemilu, foto Bung Karno kadang ikut ‘nimbrung’ di baliho Caleg. Ada juga partai yang sengaja mengarak fotonya dalam kampanye. Tak hanya itu, tokoh-tokoh politik yang krisis identitas terkadang menjiplak gaya Bung Karno, entah gaya pidatonya, cara berpakaiannya, dan mikrofon pidatonya, dan lain-lain.

     Namun, dari sekian banyak pengagum Bung Karno, hanya sedikit dari mereka yang mau mempelajari ajarannya. Bung Karno dipuja-puji setinggi langit, patungnya berdiri di sejumlah tempat, makamnya tidak pernah sepi pengunjung, dan lain sebagainya. Sementara ajaran Bung Karno, terutama analisa klas Marhaen sebagai klas mayoritas di Indonesia, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi, nyaris tidak tersentuh dan dielaborasi sesuai semangat zaman.

     Lenin, pemimpin Uni Soviet yang terkenal itu, pernah memperingatkan bahaya ketika seorang tokoh revolusioner, yang sudah meninggal dunia, dipuja-puji berlebihan dan dibangunkan patung-patung suci. Biasanya, kata Lenin, ketika tokoh revolusioner masih hidup, ia dikejar-kejar dan ajarannya diharamkan. Namun, begitu meninggal dunia, maka klas penindas akan mengubah mereka menjadi patung-patung suci yang tidak membahayakan.

     “..menyatakan mereka sebagai orang-orang suci, memberikan keharuman tertentu kepada nama-nama mereka untuk jadi penghibur bagi kelas-kelas tertindas dan untuk menipu mereka, bersamaan dengan itu mengebiri esensi ajaran revolusioner, menumpulkan ujung revolusionernya yang tajam, dan memvulgarkannya.”

Lenin, Negara dan Revolusi, 1917

     "kutitipkan bangsa dan negeri ini kepadamu", demikianlah pesan Bung Karno kepada penerus Bangsa ini. Sebagai anak Bangsa, sudah menjadi tugas kitalah untuk meneruskan perjuangan Bung Karno ini.

     Namun, untuk melanjutkan tugas mulia itu, kita harus terbuka untuk mendiskusikan apa yang sudah dibangun olehuu Bung Karno dan yang belum, apa yang melenceng dan apa yang sudah tepat, apa yang perlu dikoreksi dan apa yang harus diperkuat. Pendiskusian terbuka soal ini justru akan menjadikan proyek politik Bung Karno menjadi hidup dan sesuai dengan konteks zaman.

     Inilah saatnya menghidupkan ajaran-ajaran Bung Karno, dengan mengelaborasi dan mengembangkannya dengan perkembangan zaman. Sebab, seperti dikatakan Bung Karno sendiri, “teori-teori haruslah diubah, kalau jaman itu berubah; teori-teori haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.” Ajaran Bung Karno harus dikembalikan elang revolusionernya.

     Marilah kita melihat pesan Bung Karno kembali dengan semangat dan hati yang berkobar:

     “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan!”

-Bung Karno-

MENGENAL KEMBALI MARHAENISME, MARXISME ALA INDONESIA ( I )



Suatu pagi di tahun 1920-an, Bung Karno mengayuh sepeda tak tentu arah dan tujuan. Hingga tanpa sadar dia sudah ada di pelosok Bandung bagian selatan. Pandangannya membentur sosok petani yang tengah mencangkul sawah. Dia menghentikan sepedanya dan mendekati sang petani. Bung Karno pun lantas bercakap-cakap dengan si petani itu.

“Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?” tanya Bung Karno.

“Saya, Juragan,” jawab sang petani.

“Apakah kau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”

“Oh tidak, Gan. Saya memilikinya sendiri.”

“Apa kau membeli tanah ini?”

“Tidak. Tanah ini diwariskan secara turun temurun dari orangtua saya.”

“Bagaimana dengan sekopmu? Milikmu juga?”

“Ya, Gan.”

“Dan cangkul itu?”

“Milik saya juga, Gan.”

“Bajak?”

“Juga milik saya.”

“Lalu hasilnya untuk siapa?”

“Untuk saya, Gan.”

“Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”

“Bagaimana mungkin sawah yang begitu sempit ini bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat anak?”

“Tapi semua ini milikmu?”

“Iya, Gan.”

     Bung Karno terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi benaknya. Pada bagian akhir pertanyaannya, dia teringat teori yang dilontarkan ahli ekonomi tentang suatu kelas yang disebut sebagai “penderita minimum”. Inikah dia?

“Siapa namamu?”

“Marhaen.”

     Semenjak itulah, Bung Karno semacam mendapatkan sebuah 'wahyu' untuk memberikan istilah Marhaen bagi mayoritas warga Indonesia yang mengalami nasib yang sama seperti si petani itu.

     Ya, Marhaen. Apakah anda pernah mendengar istilah Marhaen? Bagi orang awam, istilah Marhaen mungkin masih terdengar asing. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi mereka para penggemar politik dan sejarah. Istilah Marhaen memang sering muncul dalam buku-buku sejarah dan politik di Indonesia. Selain itu, ada banyak gerakan politik, baik partai maupun organisasi massa, yang gandrung menggunakan istilah “Marhaen” ini.

     Di jaman yang modern ini, banyak orang yang merancukan definisi dari istilah Marhaen tersebut. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa Marhaen adalah golongan "wong-wong cilik"(orang-orang kecil). Adapula yang mengatakan bahwa Marhaen adalah sinonim dari kata Proletar. Akibat dari penyamarataan arti ini, istilah Marhaen seolah-olah tidak memiliki definisi yang pasti. Hasilnya, banyak orang yang menggunakan istilah Marhaen ini secara asal-asalan.

     Namun, apa arti dari istilah Marhaen? Apakah Marhaen itu sama dengan Proletar? Dan mengapa Bung Karno begitu menekankan golongan Marhaen ini?


DEFINISI MARHAEN

Setelah melihat kebingungan akan arti Marhaen tersebut, mari kita analisis istilah tersebut secara mendalam. Jika kita mendasarkan arti Marhaen tersebut dengan kisah antara Bung Karno dengan pak Marhaen, maka arti dari Marhaen itu berbeda dari proletar.

     Menurut kisah tersebut, orang Marhaen adalah orang yang: pertama, memiliki sebuah produksi kecil. Kedua, tidak menyewa atau mempekerjajakan orang lain. Alat produksi itu dikerjakan dengan tenaga sendiri (plus keluarga). Ketiga, tidak punya majikan. Keempat, hasil produksinya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarganya. Kadang hasil produksinya pas-pasan.

     Atau dalam salah satu perkataannya, Soekarno menjelaskan bahwa "seorang marhaen adalah seorang yang mempunyai alat produksi kecil; seorang kecil dengan alat produksi kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri."

     Tentu pengertian Marhaen ini berbeda dengan pengertian Proletar. Menurut Friedrich Engels dalam karyanya yang berjudul "Principles of Communism", Proletariat adalah kelas dalam masyarakat yang sepenuhnya hidup dengan menjual kerjanya dan tidak mengambil profit dari kapital manapun; yang nasib baik dan nasib buruknya, yang hidup dan matinya, yang eksistensinya, bergantung pada permintaan atas kerja – karena itu, bergantung pada kondisi bisnis yang berubah-ubah, pada perubahan-perubahan yang tak terduga dari persaingan yang tak terkendali. Proletariat, atau kelas proletar, pendeknya, adalah kelas pekerja Abad ke-19 X.

     Atau, jika kita menggunakan kamus Politik F.R. (Fikiran Ra’jat-ed) nomor percontohan istilah ini telah kita jelaskan dengan singkat. Proletar ialah orang yang dengan menjual tenaganya “membuat” sesuatu “barang” untuk orang lain (majikannya), sedang ia tidak ikut memiliki alat-alat pembuatan “barang” itu. Ia tidak ikut memiliki produktie-middlen. Seorang letterzetter adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang letter-letter yang ia zet itu bukan miliknya. Seorang masinis adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang lokomotif yang ia jalankan bukan miliknya. Seorang insinyur yang masuk kerja pada orang lain adalah juga seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang kantor atau besi-besi atau semen yang ia usahakan itu bukan miliknya. Insinyur ini biasanya disebutkan “proletar intelektual”.

     Namun, pada tahun 1933, Bung Karno memberikan perluasan makna terhadap istilah Marhaen itu. Pada pidatonya di depan konferensi PARTINDO, di Mataram, Yogyakarta, Bung Karno menjelaskan bahwa "Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain."

     Lebih lanjut, penjelasan tentang istilah Marhaen dapat kita temukan dalam pidato tertulis PJM Presiden Sukarno pada Konferensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta, 17 Februari 1959, yang berbunyi, "Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme."


ANTARA MARHAEN DAN PROLETAR

Mungkin setelah anda membaca penjelasan di atas, anda akan bertanya, "Mengapa klas Marhaen yang ditekankan Soekarno? Mengapa bukan klas Proletar? Bukankah menurut Karl Marx, kelas Proletar adalah klas yang paling revolusioner?"

     Ya, walaupun Bung Karno lebih menekankan kelas Marhaen, namun Bung Karno tidak menihilkan fakta bahwa klas Proletar adalah kelas yang revolusioner. Bung Karno dengan jelas menyatakan bahwa "kaum Proletar sebagai klas adalah hasil langsung daripada kapitalisme dan imperialisme. Mereka adalah kenal akan pabrik, kenal akan mesin, kenal akan listrik, kenal akan cara produksi kapitalisme, kenal akan kemodernannya abad keduapuluh. Mereka ada pula lebih langsung menggenggam mati hidupnya kapitalisme di dalam mereka punya tangan, lebih direct (langsung, ed.) mempunyai gevechtswaarde anti kapitalisme. Oleh karena itu, adalah rasionil jika mereka yang di dalam perjuangan anti kapitalisme dan imperialisme itu berjalan di muka, jika mereka yang menjadi pandu, jika mereka yang menjadi “voorlooper”, -jika mereka yang menjadi “pelopor”."

     Bung Karno menekankan klas Marhaen bukanlah tanpa alasan. Fakta menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, yang hidup dijaman itu, adalah klas Marhaen, itulah landasan Bung Karno untuk menekankan klas Marhaen ini.

     Namun, Bung Karno pun mengakui, "Di dalam perjuangan Marhaen itu maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang besar sekali." Kaum buruhlah yang harus menjadi “pembawa panji-panji”. Sebagaimana yang kita ketahui dalam peperangan, bahwa seluruh tentara berperan dalam merebut kemenangan tersebut, namun ada suatu barisan yang menjadi kunci kemenangannya. Suatu barisan yang berperang di barisan terdepan, berkelahi mati-matian dimuka, -mempengaruhi dan menjalankan kenekatan dan keberaniannya, dan barisan ini adalah barisannya barisan pelopor. Jika kita umpamakan, tentara kita adalah benar tentaranya Marhaen, tentaranya klas Marhaen, tentara yang banyak mengambil tenaganya kaum tani, tetapi barisan pelopor kita adalah barisannya kaum buruh, barisannya kaum Proletar.

     Oleh karena itu, pergerakan kaum Marhaen tidak akan menang, jika tidak sebagai bagian daripada pergerakan Marhaen itu diadakan barisan “buruh dan sekerja” yang kokoh dan berani. Camkanlah ajaran ini, kerjakanlah ajaran ini! Bangunkanlah barisan “buruh dan sekerja” itu, bangkitkanlah semangat dan keinsyafan, susunkanlah semua tenaganya! Pergerakan politik Marhaen umum adalah perlu, -tetapi sarekat buruh dan sekerja adalah juga perlu, amat perlu, teramat perlu, maha perlu dengan tiada hingganya!

Rabu, 03 Juli 2019

APAKAH "AGAMA ADALAH CANDU BAGI MASYARAKAT"?




Die Religion ... ist das Opium des Volkes(Bahasa Indonesia: "Agama... adalah opium bagi masyarakat"), adalah kutipan terkenal dari tulisan Karl Marx yang sering disalahartikan. Kutipan ini sering digunakan untuk menyerang Marx, seolah inti ajarannya adalah memusuhi agama, atau sebaliknya oleh yang anti agama untuk memojokkan mereka yang memeluk agama. Kutipan ini adalah salah satu kutipan 'terampuh' bagi para penggila OrBa untuk menyatakan bahwa kaum marxist adalah kaum yang anti agama.

     Namun, benarkah demikian? Benarkah kaum marxist adalah kaum yang anti agama? Dan benarkah agama adalah candu? Sebelum kita membahas hal ini secara lebih dalam, baiklah kita melihat pandangan Karl Marx terhadap agama.


KONSEPSI AGAMA DALAM PERSPEKTIF KARL MARX

"Fondasi dari kritisisme irelijius adalah: Manusia menciptakan agama, agama tidak menciptakan manusia. Agama, tentu saja, adalah kesadaran diri sendiri dan kepercayaan diri dari seorang manusia yang bisa belum memenangkan dirinya sendiri, atau sudah kalah terlebih dahulu. Tapi manusia bukanlah makhluk abstrak yang dijongkokkan di luar dunia. Manusia adalah dunia dari manusia, - negara, masyarakat. Negara dan masyarakat ini menciptakan agama, yang merupakan kebalikan dari kesadaran akan dunia, karena mereka adalah dunia yang terbalik. Agama adalah teori umum atas dunia ini, sebuah kompendium ensiklopedis, logikanya dalam bentuk populer, aspek spiritual d'honneurya, antusiasmenya, sanksi moralnya, kesempurnaannya yang datar, dan basis universal dari penghiburan dan pengadilan. Perjuangan melawan agama, dengan demikian, adalah secara tidak langsung adalah perjuangan melawan dunia yang aroma spiritualnya adalah agama.

     Penderitaan relijius adalah, pada satu dan saat yang sama, ekspresi dari penderitaan yang nyata dan protes melawan penderitaan yang nyata.

     Agama adalah desah napas keluhan (sigh) dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Agama adalah opium bagi masyarakat.

     Penghapusan dari agama sebagai ilusi kebahagiaan dari orang-orang, adalah tuntutan atas kebahagiaan yang nyata. Untuk meminta mereka menyerahkan ilusi atas kondisi mereka sama saja meminta mereka menyerah atas kondisi yang butuh ilusi. Kritisisme atas agama adalah, dengan demikian, dalam bentuk embrio, sebuah kritisime atas lembah airmata yang agama merupakan lingkaran cahaya (halo)nya."

     Demikianlah tulis Karl Marx dalam karyanya yang berjudul "A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right". Jika kita membaca tulisan Karl Marx ini secara lengkap, maka kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksud " Agama adalah opium/candu bagi masyarakat" dalam perspektif Karl Marx adalah agama, sebagai sarana untuk 'meringankan' beban manusia. Konteks opium/candu adalah sebagai obat peringan beban pikiran, bukan sebagai opium/candu yang membuat ketergantungan.

     Dalam tulisannya ini, Marx menyatakan bahwa agama memiliki fungsi sebagai penenang atau penghibur sementara. Fungsi ini kurang lebih sama seperti fungsi opium terhadap orang sakit atau cedera. Ia mengurangi rasa sakit dan memberi ilusi yang menyenangkan kepada si sakit. Agama seperti halnya obat-obat bius, yang tidak memecahkan persoalan sesungguhnya, tetapi memberikan jalan keluar yang bersifat sementara, supaya orang bisa bertahan di dalam penderitaannya. Agama adalah pelemah semangat perlawanan kaum tertindas terhadap kelas di atasnya yang bersifat opresif dan menjadikan masyarakat sebagai orang yang tidak berjiwa dan tidak berperasaan.

     Candu dari agama tersebut memberikan kepuasan, tetapi kepuasan itu semu karena tidak mengubah situasi buruk dari si pecandu. Agama memberikan kepuasan semu tanpa mengubah situasi buruk orang kecil. Agama menjanjikan ganjaran di akhirat bagi orang yang dengan tabah menerima nasibnya. Jadi, menurut Karl Marx, karena agama, rakyat kecil tidak memiliki semangat untuk memerjuangkan nasibnya, tetapi malah bersedia menerima segala penghisapan dan penindasan yang dideritanya, hal yang justru menguntungkan klas-klas penindas.


KRITIK TERHADAP PANDANGAN KARL MARX

Namun, apakah pandangan Karl Marx terhadap agama ini salah? Tentu saja tidak, setidaknya untuk sebagian pendapatnya. Untuk menilai pendapat ini, kita tidak bisa melepaskan latar belakang Marx sebagai seotang sosiolog. Sebagai seorang sosiolog, penilaian yang dilakukan Marx ini semata-mata adalah penilaian yang dianalisis secara empiris-objektif semata. Secara empiris berarti agama dianalisis berdasarkan data dan pengalaman-pengalaman yang konkret. Dan, secara objektif berarti agama 'dibedah' menurut apa adanya (das Sein) bukan menurut apa yang seharusnya (das Sollen).

     Agama bagaikan pisau bermata dua, pernyataan ini sepertinya dapat kita gunakan dalam memahami hal ini. Di satu pihak, agama telah memajukan peradaban manusia, yakni menghormati kehidupan, menjunjung kemanusiaan universal, dll. Namun di lain pihak, agama telah menimbulkan berbagai macam perpecahan, peperangan, kekacauan, konflik, dll.

     Memang benar apa yang telah dinyatakan oleh Karl Marx, bahwa agama dapat memberikan kelepasan kepada seseorang dari tekanan ekonomi dengan nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang dipeluknya dan boleh jadi nilai-nilai dan kepercayaan keagamaan itu mempunyai efek seperti obat bius. Namun, pada waktu yang sama, agama telah memberikan makna yang sangat berarti pada kehidupan manusia, bahkan makna tersebut dapat memicu manusia untuk semakin berkembang. Max Weber membuktikan bahwa kebangkitan ekonomi di Eropa Barat mempunyai hubungan yang erat dengan agama (dalam hal ini adalah calvinisme). Weber menyatakan bahwa orang-orang yang mengalami keberhasilan dalam bidang ekonomi di Eropa Barat umumnya adalah orang-orang Calvinis. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan akan hubungan antara agama dan kemajuan ekonomi.



KESIMPULAN

Jadi, jika kita ditanya, "Apakah agama adalah candu bagi masyarakat?" Tentu kita akan berkata "tidak". Namun, jika kita ditanya, "Apakah agama DAPAT MENJADI candu bagi masyarakat?" Kita dapat berkata "Ya". Apa yang diungkapkan Karl Marx bahwa "agama adalah candu bagi masyarakat" adalah benar, walaupun hanya sebagian. Fakta yang diberikan Max Weber, membuktikan bahwa agama dapat memicu perkembangan ekonomi di Eropa Barat, setidaknya telah mematahkan pendapat Karl Marx itu. Akhirnya, pepatah "agama bagaikan pisau bermata dua" tidak bisa kita hindari. Menjadi candu atau tidaknya sebuah agama tergantung dari interprestasi masing-masing individu. Menjadi candu atau tidaknya sebuah agama berada di dalam 'tangan' kita masing-masing.