KANAL MEDIA PROGRESIF
Blog Pacar Merah adalah blog dimana kita dapat mengetahui sejarah, konsep, dan praktek daripada Sosialisme. Dalam blog ini kita dapat melihat seluk beluk dan perkembangan konsep Sosialisme. Di sini, saya akan sedapat mungkin untuk menjawab dengan tepat, segala pertanyaan yang berhubungan dengan Sosialisme. Selamat Membaca. SOSIALISME PASTI JAYA!!!
Jumat, 03 April 2020
REFORMASI ATAU REVOLUSI?
Telah 7 bulan lebih, semenjak revisi UU KPK disahkan, KPK tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), fungsi dari komisi antikorupsi tersebut menunjukkan kinerja yang menurun. "Kekhawatiran kami terhadap berlakunya UU tersebut semakin ke sini semakin terkonfirmasi," kata Peneliti ICW Tama S Langkun.
Tidak hanya ICW, Abraham Samad yang merupakan mantan ketua KPK periode 2011-2015 pun tak luput untuk melayangkan kritiknya. Abraham Samad menilai bahwa kinerja KPK setelah pengesahan UU KPK begitu lamban. Dalam laman twiternya (12/01/2020), ia mengkritik kinerja KPK dalam menggeledah kasus Harun Masiku. Kasus ini membuktikan bahwa "revisi UU melemahkan KPK. KPK menjadi sulit dalam melakukan OTT atau bahkan bisa dikatakan KPK semakin mustahil untuk melakukan OTT."
Kini, telah hampir 22 tahun berlalu sejak genderang reformasi dibunyikan. Telah hampir 22 tahun pula cita-cita mengenai Indonesia sempurna sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 nampaknya semakin sia-sia. Reformasi intistusional nampaknya tak membawa perubahan yang berarti. Seruan #ReformasiDikorupsi yang disuarakan oleh kaum pelajar pada September lalu bukan hanya slogan untuk kesenangan semata, namun merupakan ekspresi bahwa telah sempurnanya pemufakatan jahat oleh oligarki secara paripurna. Pengesahan revisi UU KPK dan kinerja KPK saat ini merupakan bukti nyata dari kebusukan kaum oligarki. Masihkah reformasi dapat diandalkan?
TUNTASKAN REFORMASI DENGAN REVOLUSI!
Jika kita melihat karya-karya klasik dari para pendiri Bangsa Indonesia, maka kita akan mengetahui bahwa kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukanlah suatu tujuan akhir. Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanyalah "jembatan emas" yang menghantarkan Rakyat Indonesia kepada fase yang lebih tinggi, yakni kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’, kepada Sosialisme.
Namun, perjuangan Bangsa Indonesia untuk menciptakan Sosialisme kandas di tengah jalan. Melalui peristiwa pemberontakan merangkak yang dipelopori oleh kaum kanan pada tahun 1965, usaha untuk mencapai Sosialisme telah resmi gagal. Soeharto dan elit borjuasinya telah merubah negara-bangsa Indonesia ini menjadi negara klas. Indonesia saat ini hanya merupakan manifestasi dari klas yang menguasai kapital.
Maka dari itu, Untuk mewujudkan Sosialisme, maka perjuangan melalui reformasi adalah mustahil. Hal itu mustahil, karena secara esensial, Indonesia telah dikuasai oleh kapitalisme. Negara adalah Negaranya kelas penguasa, negaranya kaum borjuis. Satu-satunya cara untuk mewujudkan Sosialisme adalah penghancuran kapitalisme secara mutlak, dan hal ini hanya bisa dilakukan dengan revolusi.
Mencita-citakan Sosialisme berarti kita juga mencita-citakan pembebasan diri kelas buruh dan penggulingan kapitalisme. Untuk itu kita harus menyadari sepenuhnya bahwa tugas pertama kelas buruh adalah menaklukkan kekuasaan Negara.
Marx dan Engels berkata: ”Langkah pertama dalam revolusi oleh kelas buruh adalah menempatkan proletariat pada posisi sebagai kelas penguasa guna memenangkan pertempuran untuk demokrasi. Proletariat akan mempergunakan keunggulan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, untuk memusatkan semua instrumen produksi ke dalam tangan Negara, yakni, proletariat yang terorganisir sebagai kelas penguasa; dan untuk memperbesar tenaga-tenaga produktif total secepat mungkin.” (Manifesto Komunis, Bab II]
Mewujudkan Sosialisme dengan cara reformis (berangsur-angsur) seperti yang dianjurkan oleh Eduard Bernstein adalah mustahil. "Tidaklah benar bahwa sosialisme bisa muncul secara otomatis dari perjuangan sehari-hari kelas pekerja (reformasi). Sosialisme akan menjadi konsekuensi dari (1) kontradiksi-kontradiksi yang tumbuh di dalam ekonomi kapitalis, dan (2) pemahaman oleh kelas pekerja tentang tak terhindarkannya penghapusan kontradiksi-kontradiksi ini melalui transformasi sosial", tulis Rosa Luxemburg dalam karyanya yang berjudul "reformasi atau revolusi?".
Itulah kenapa, bagi Rosa Luxemburg, revolusi bukanlah hal yang bersifat taktis, melainkan prinsipil. Revolusi merupakan kunci utama untuk mewujudkan Sosialisme. Oleh Rosa, reformasi tidak ia tolak sama sekali. Namun, Rosa menganggap bahwa reformasi harus dijadikan sebagai persiapan untuk mewujudkan revolusi. Menghapuskan hubungan-hubungan produksi kapitalistik dengan revolusi merupakan syarat utama untuk mewujudkan Sosialisme.
Menurut Rosa Luxemburg, mewujudkan Sosialisme semata-mata dengan cara reformasi adalah sebuah hal yang absurd. Hal ini tidak hanya menggerogoti mental revolusioner kaum proletar, namun juga menihilkan fakta negara klas itu sendiri. Kaum proletar tidak boleh terpaku kepada kebutuhan sehari-hari secara reformis saja (atau jika menggunakan bahasanya Lenin adalah kecenderungan ekonomisme). Ia harus menjadikan reformasi itu sebagai sebuah tahap untuk menggapai revolusi.
PENUTUP
Akhirnya, reformasi yang terjadi selama hampir 22 tahun yang lalu telah terbukti gagal. Praktik KKN setelah ORBA berlalu tidaklah hilang, justru malah semakin menjadi-jadi. Maka dari itu, untuk mewujudkan Sosialisme, sebagaimana yang disuarakan oleh para pendiri Bangsa Indonesia, maka perjuangan melalui reformasi tidaklah cukup. Kaum Marhaen dengan klas proletariat sebagai pionirnya harus mampu mewujudkan revolusi. Karya-karya Marxis seperti "reformasi atau revolusi" oleh Rosa Luxemburg atau "Apa yang harus dikerjakan?" Karya Vladimir Lenin dapat menjadi inspirasi untuk mewujudkan revolusi.
Senin, 30 Maret 2020
APAKAH SENTRALISME DEMOKRATIK ITU?
Banyak yang beranggapan bahwa konsep ini adalah konsep yang sama seperti yang ditawarkan oleh rezim Stalinisme. Kaum-kaum non-Marxis sering menyalahartikan konsepsi ini sebagai bentuk totaliter sebagaimana yang terjadi di Uni Soviet di era kepemimpinan Joseph Stalin. Tentu saja hal ini tidak benar. Apa yang mereka maksudkan bukanlah Sentralisme demokratik, namun Sentralisme birokratik. Lalu, apa itu Sentralisme demokratik dan bagaimana konsepsinya?
MEMAHAMI LEBIH DALAM
"Keberagaman dalam diskusi dan kesatuan dalam aksi"
Kalimat yang singkat, padat, dan jelas, demikianlah penjelasan Lenin mengenai sentralisme demokratik. Sentralisme demokratik atau sentralisme demokratis adalah penerapan metode Marxis untuk mengatur dan untuk memimpin kelas pekerja dalam transformasi masyarakat yang revolusioner. Sentralisme demokratik menggabungkan kepemimpinan pusat dengan inisiatif dan aktivitas kreatif lokal serta dengan tanggung jawab masing-masing badan dan pejabat negara untuk pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka. Metode ini sering digunakan oleh Partai Leninis di mana keputusan politik yang dicapai melalui proses pemungutan suara mengikat semua anggota partai.
Sentralisme demokratik ini sendiri terdiri dari dua elemen yang berbeda, yakni demokrasi dan sentralisme, yang berhubungan secara dialektis dan terus berubah dari perjuangan dan persatuan. Dengan kata lain, metode ini bukan merupakan metode yang baku dan kaku, tetapi lebih merupakan pendekatan untuk proses pengambilan keputusan kolektif dan tindakan kolektif yang dapat mengambil berbagai bentuk, sesuai dengan perkembangan organisasi dan tuntutan perubahan dari perjuangan kelas.
Aspek demokrasi dari sentralisme demokratis sendiri berfungsi untuk memastikan pengambilan keputusan yang mencakup diskusi menyeluruh tentang pertanyaan-pertanyaan politik, penayangan penuh sudut pandang minoritas, pengambilan keputusan kolektif atau peninjauan berkala atas keputusan yang didelegasikan, laporan dari anggota tentang pekerjaan dan analisis mereka, ketentuan untuk inisiatif dari anggota, dan kritik terhadap semua aspek politik, organisasi, dan praktik teoretis. Praktik organisasi yang demokratis bertumpu pada prinsip bahwa keputusan kolektif yang dibuat dengan suara terbanyak setelah diskusi penuh, informasi, dan jujur.
Aspek sentralisme diperlukan untuk memastikan kesatuan tindakan dalam melaksanakan keputusan organisasi, untuk memberikan fleksibilitas strategis dan taktis dalam berurusan dengan negara borjuis yang sangat tersentralisasi, dan untuk menciptakan dasar dalam praktik sosial untuk mengevaluasi garis organisasi. Sentralisme mencakup kepemimpinan di semua tingkatan yang merangkum gagasan dan pengalaman keanggotaan, menyusun proposal untuk dipertimbangkan oleh organisasi, menyajikan argumen politik untuk posisi yang direkomendasikan, menerapkan kebijakan, dan merespons secara tegas untuk memandu organisasi dan kelas pekerja melalui tikungan dan putaran perjuangan.
Hubungan antara sentralisme dan demokrasi sangatlah penting. Tanpa demokrasi, kepemimpinan tidak memiliki informasi yang akurat tentang perkembangan perjuangan kelas yang sebenarnya, dan terutama tentang kebutuhan dan kemampuan massa. Padahal, ia sendiri harus mengembangkan strategi dan taktik dengan menerapkan teori Marxis pada pandangan parsialnya sendiri tentang situasi politik. Di sisi lain, tanpa sentralisme, pengalaman para anggota partai dan massa akan terpencar dan tidak terorganisir. Organisasi tidak akan bisa menerjemahkan pengetahuan dan pengalamannya menjadi kekuatan material. Dengan demikian, tidak akan ada demokrasi tanpa sentralisme, dan tidak ada sentralisme tanpa demokrasi.
Kongres Ketujuh Partai Buruh Sosial Demokrat Rusisa (Bolshevik) yang diadakan di Pertograd antara 26 Juli - 3 Agustus 1917 mendefinisikan sentralisme demokratik sebagai berikut:
1. Bahwa semua badan pengarah Partai, dari atas ke bawah, harus dipilih.
2. Badan Partai tersebut wajib memberikan laporan berkala tentang aktivitas mereka kepada organisasi-organisasi Partai masing-masing.
3. Bahwa harus ada disiplin Partai yang ketat dan subordinasi minoritas terhadap mayoritas.
4. Bahwa semua keputusan badan yang lebih tinggi harus mengikat secara absolut kepada badan yang lebih rendah dan kepada semua anggota Partai.
Walaupun metode ini seringkali digunakan oleh partai-partai Leninis, namun bukan berarti metode ini tidak dapat digunakan oleh organisasi lainnya. Kaum pelajar dapat menggunakan metode ini sebagai alternatif dalam pengambilan keputusan dalam setiap kegiatannya. Metode ini terutama sangat dianjurkan untuk menjadi referensi bagi pelajar dalam mengorganisasikan sesama pelajar demi kesadaran klas.
Rabu, 18 Maret 2020
ALIENASI PENDIDIKAN
"Aduh, nyong urung sinau acan koh" (Indonesia: aduh, aku belum belajar sama sekali koh) kataku terhadap teman-teman ku yang sedang belajar di depan kelas. Seperti biasa, untuk menyambut UTS (atau apapun itu namanya), beberapa siswa (mungkin termasuk saya) mendadak menjadi rajin untuk belajar. Hari itu akan diadakan tes mapel ekonomi, mapel yang cukup saya sukai. Karena saya belum belajar sama sekali, akhirnya saya pun hanya belajar ala kadarnya. Walaupun akhirnya, Puji Tuhan, Alleluya, Alhamdulillah, saya memeroleh nilai yang cukup baik.
Pada artikel ini, kita tidak akan membahas mengenai UTS atau yang serupa dengannya. Pada artikel ini, kita akan membahas mengenai alienasi dalam pendidikan. Mengapa pada saat itu beberapa siswa menjadi mendadak rajin untuk belajar? Jawabannya mudah, tentunya agar nilai yang diperoleh mencapai batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Ketika seseorang belajar semata-mata hanya untuk memeroleh nilai yang tinggi, maka ia telah mengalami alienasi dalam proses belajarnya. Belajar tidak menjadi sarana untuk mengembangkan diri, tetapi semata-mata hanya untuk memeroleh nilai, yang pada akhirnya nilai tersebut digunakan untuk mencari pekerjaan.
Dunia pendidikan memang tidak sama dengan dunia ekonomi, namun bukan berarti teori-teori ekonomi tidak dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam dunia pendidikan. Teori alienasi kerja yang dipopulerkan oleh Karl Marx ini menjelaskan keterkaitan antara manusia dengan produk aktivitasnya. Marx menyebut keterasingan (alienasi) sebagai proses historis di mana manusia semakin terasing dari alam dan dari produk dari aktivitas mereka. Sebelum kita melanjutkan pembahasan mengenai alienasi pendidikan, ada baiknya jika kita melihat terlebih dahulu konsepsi alienasi kerja secara lebih terperinci.
KETERASINGAN DALAM PEKERJAAN
Menurut Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar. Dalam pekerjaan, manusia dapat merealisasikan dirinya untuk menjadi nyata. Pekerjaan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Hewan bekerja atas dasar nalurinya saja, tidak lebih daripada itu. Namun, manusia bekerja secara bebas dan universal. Ia dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsungnya (misalnya melukis hanya untuk hobi atau untuk diberikan secara cuma-cuma). Kerja yang bebas dan sadar adalah ciri khas kerja manusia.
Karena pekerjaan adalah sarana perealisasian diri manusia, bekerja seharusnya menjadi kegiatan yang menggembirakan. Bekerja seharusnya memberikan kepuasan. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Bagi sebagian orang, khususnya kaum pekerja, bekerja adalah hal yang 'menakutkan'. Pekerjaan tidak mengembangkan mereka, justru malah menyiksa mereka. Mengapa demikian?
Menurut Marx, dalam sistem kapitalisme, orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata karena terpaksa, sebagai syarat agar dapat hidup. Pada tahap inilah, manusia mengalami alienasi dalam pekerjaan.
Dalam kapitalisme, kerja tidak menjadi sarana untuk merealisasikan hakekatnya yang bebas dan universal. Pekerjaan menjadi suatu kegiatan penuh paksaan. Pekerjaan bukan menjadi kebutuhan bagi manusia, melainkan manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di luar pekerjaan. Manusia bekerja agar tidak lapar. Dalam kapitalisme, pekerjaan manusia tidak mengembangkan dirinya, melainkan memiskinkan dirinya.
Tidak hanya teralienasi dalam kegiatannya, manusia pun teralienasi terhadap produk ciptaannya. Dalam kapitalisme, kaum pekerja terasingkan dari produk ciptaannya. Sebagai pekerja, ia tidak dapat memiliki hasil pekerjaannya. Produk yang dihasilkannya telah menjadi milik kaum kapitalis. Jika demikian, apa yang ia kerjakan tidak ada artinya bagi dirinya. "Semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia, dunia batinnya, menjadi miskin" kata Karl Marx dalam catatan filsafat ekonominya.
PELAJAR YANG TERALIENASI
Proses-proses alienasi pada diri para pekerja ini akhirnya menular dan terjadi di dunia pendidikan. Internalisasi logika kapital yang memandang segala sesuatu sebagai komoditi telah menjadikan pendidikan dipandang dari segi nilai tukarnya saja, yaitu sebuah sarana yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang kelak dapat menghasilkan keuntungan finansial.
Dalam sekolah, para pelajar dituntut untuk memeroleh nilai setinggi-tingginya dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Senang tidak senang dan mau tidak mau, ia harus menyelesaikan target memelajari begitu banyak materi pelajaran. Tidak penting apakah proses pendidikan bermakna bagi pelajar atau tidak, yang terpenting kemudian adalah menyelesaikan semua beban studi dan memberikan hasil minimal sama dengan standar. Inilah yang dinamakan Fromm dengan automaton, manusia tidak ubahnya seperti mesin. Manusia mengalami alienasi dalam pendidikannya.
Melihat hal ini, maka nampaknya alienasi yang dialami pelajar tidak ada bedanya dengan alienasi para pekerja. Para pelajar teralienasi dengan kerja mereka. Belajar adalah bagian dari pekerjaan manusia. Dalam sekolah, belajar tidak lagi menjadi sarana untuk mengembangkan diri, namun semata-mata hanya untuk mendapatkan nilai. Seringkali para pelajar tertekan untuk mendapatkan nilai-nilai yang telah ditentukan. Akibatnya, banyak pelajar yang mengabaikan kegiatan belajar dan lebih mementingkan nilai. Nilai lebih tinggi kedudukannya dari kerja itu sendiri (belajar).
Tidak hanya itu, para pelajar juga teralienasi terhadap produk pikirannya (dalam hal ini hasil dan pengalaman yang mereka dapatkan selama menempuh pendidikan). Sangat sedikit pelajar yang mampu menjiwai materi pelajaran yang diberikan. Tidak ada internalisasi nilai-nilai pada materi menyebabkan ilmu yang diterima hanya sekedar angin lalu saja. Karena tidak tidak adanya internalisasi nilai-nilai, ilmu yang mereka terima menjadi tidak bermakna.
Pendidikan, sebagai sebuah indikator majunya suatu bangsa memang perlu mengalami revolusi secara besar-besaran jika kita memang masih menginginkan sebuah realitas yang lebih baik. Perombakan kurikulum secara progresif sangat dibutuhkan demi menghilangkan alienasi dalam pendidikan ini. Selain itu, meletakan dimensi humanisme dalam proses berpendidikan pun tak kalah penting. Karena setiap kegiatan manusia, baik itu politik, ekonomi, ataupun pengembangan teknologi, adalah bertujuan untuk kembali memuliakan manusia itu sendiri, dan bukanlah untuk kepentingan finansial semata yang entah akan menguntungkan siapa. Pendidikan harus dapat membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina.
Minggu, 14 Juli 2019
GENJER-GENJER YANG SELALU BIKIN GEGER
"Anak-anak, seperti yang sudah ibu bilang kemarin, besok kalian akan presentasi. Dalam presentasi itu, kalian boleh memakai sebuah ilustrasi, baik itu ilustrasi audio maupun visual." Demikianlah kata guru saya, mengakhiri pelajaran IPS yang telah berlangsung. Setelah guru saya berkata demikian, riuhlah seisi kelas saya (yang pada saat itu, saya masih duduk di bangku SMP), yang menandakan bahwa setiap kelompok belajar sedang mendiskusikan rencana presentasi tersebut. Di tengah kegaduhan tersebut, tiba-tiba seorang teman saya mengangkat tangannya dan bertanya kepada guru itu, "Bu, boleh pakai lagu Genjer-genjer ngga?". Jawab guru itu, kepada teman saya, yang bernama Dito itu, "Ya kena, angger isa ya nganggo logo palu-arit sisan" (Bhs. Indonesia: ya boleh, kalau bisa ya pakai simbol palu-arit sekalian).
Ya, lagu "Genjer-genjer" ini memang sangat lekat dengan ideologi komunisme, ideologi utama dari salah satu partai terbesar dimasa demokrasi terpimpin, PKI. Melalui film propaganda "Pengkhianatan G 30/S PKI", pemerintah Orde Baru telah berhasil menanamkan stigma buruk terhadap lagu ini. Lagu "Genjer-genjer" oleh mayoritas kalangan, ditempatkan sekelas dengan simbol palu arit. Berbahaya, subversif, dan bertentangan dengan Ketetapan MPRS XXV/1966.
Setelah Soeharto dan Orde Baru tumbang, barulah semua mulai terang. Film Pengkhianatan murni fiksi, termasuk adegan Gerwani menyilet wajah para Jenderal sembari bersenandung "Genjer-Genjer." Meski sejarah September 1965 mulai benderang, namun lagu ini tetap berada di sisi gelap sejarah Indonesia. Masih sangat banyak orang yang menganggap bahwa lagu "Genjer-genjer" ini adalah lagu yang membawa unsur komunisme. Padahal, jika kita analisa kembali, lagu ini sama sekali tidak memiliki unsur komunisme.
SEJARAH LAGU GENJER-GENJER
Lagu "Genjer-genjer" dibuat sekitar tahun 1942. Syair lagu "Genjer-genjer" ini diciptakan oleh Muhammad Arief, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arief, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syair baru seperti dalam lagu genjer-genjer.
Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sengsara dibanding sebelumnya. Ketika Jepang menjajah Indonesia, banyak warga kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan ‘genjer’ (Limnocharis flava), tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa, yang sebelumnya dikonsumsi itik.
Lagu “Genjer-Genjer” menjadi lebih populer ketika lagu ini dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet, dan juga Lilis Suryani pada tahun 1962. Pada masa pemerintahan Sukarno, banyak musikus memainkan lagu ini di istana.
Kepopuleran lagu ini lantas dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk berkampanye. Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitasnya. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Lagu yang menggambarkan penderitaan masyarakat desa ini lantas kembali populer di kalangan kelas bawah. Begitu lekatnya lagu ini dengan PKI, maka stempel sebagai lagu komunis pun melekat.
Setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, beberapa media seperti Angkatan Bersendjata, koran Pantjasila, dan Berita Yudha memuat berita tentang secarik kertas berisi notasi lagu "Genjer-Genjer". Notasi dan lirik lagu di kertas itu berbeda dengan lirik aslinya. Media-media itu juga menurunkan berita bohong tentang penyiksaan para jenderal.
Propaganda terhadap lagu "Genjer-Genjer" semakin langgeng karena film Pengkhianatan. Lagu itu kemudian menjadi sinonim PKI, dan karenanya dibenci sekaligus ditakuti. Utan Parlindungan dalam Mitos Genjer-Genjer: Politik Makna dalam Lagu (2014), menyebut lagu "Genjer-Genjer" sebagai, "bid'ah, larangan terkutuk yang menyetarakannya seperti hukum Tuhan, dalam kitab-kitab suci agama samawi" karena propaganda Orde Baru.
PENUTUP
Melihat bagaimana masih ada orang-orang yang ketakutan pada lagu "Genjer-Genjer" membuktikan setidaknya dua hal. Pertama, propaganda puluhan tahun Orde Baru masih kuat menancap di sebagian orang. Kedua, jalan menuju sejarah Indonesia yang terang masih amat panjang, dan tentu saja melelahkan. "Genjer-Genjer" menjadi salah satu indikatornya.
Sudah menjadi keharusan kitalah untuk menjelaskan kembali, sejarah yang telah dipalsukan. Mengatakan bahwa lagu "Genjer-genjer" adalah lagu buatan PKI adalah sama mengatakan, bahwa lagu "Yang terlupakan" merupakan lagu karangan Ariel-Noah. Apakah ini benar? Tentu saja tidak, sebab sebelum Ariel-Noah memopulerkan kembali lagu ini, lagu ini telah ada.
Memang benar bahwa PKI turut ambil bagian dalam memopulerkan lagu "Genjer-genjer" ini. Namun, hal ini bukan berarti bahwa lagu "Genjer-genjer" membawa unsur komunisme. Lagu "Genjer-genjer" adalah suara kesengsaraan rakyat. Lagu "Genjer-genjer" akan tetap dan selalu relevan, selama ketidakadilan masih terjadi!
Selasa, 09 Juli 2019
SOSIALISME ILMIAH
"Marxisme mengubah sosialisme menjadi sebuah pengetahuan ilmiah, tetapi ini tidak menghalangi beberapa ‘kaum Marxis’ untuk mengubah Marxisme menjadi utopisme." Demikianlah kata Leon Trotsky, dalam karyanya yang berjudul "Hasil dan Prospek".
Dalam tulisan di atas, Trotsky menegaskan bahwa, Sosialisme, yang dulu hanya bersifat utopis belaka, yang dulu hanya berdasarkan nilai-nilai moral saja, kini telah menjadi Sosialisme yang ilmiah dan berdasarkan fakta yang objektif. Inilah yang membedakan Sosialisme Karl Marx dengan Sosialisme lainnya. Marx mendasarkan Sosialismenya pada penelitian syarat-syarat objektif perkembangan masyarakat.
Klaim ini sangat penting untuk memahami teori Marx. Marx menolak pendasaran Sosialisme pada pertimbangan-pertimbangan moral. Sosialisme tidak akan datang karena dinilai baik atau karena kapitalisme dinilai jahat, melainkan karena, dan kalau, syarat-syarat objektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi terpenuhi.
SOSIALISME ILMIAH, SOSIALISME ALA KARL MARX
Sosialisme ilmiah atau Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat yang bernama dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat dan juga Timur, yang kemudian disatukan, disintesakan, oleh Marx menjadi dialektika materialisme. Sosialisme yang dicetuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dapat kita temui dalam buku-buku Marx, khususnya dalam bukunya yang berjudul "Manifesto Communist"
Penalaran dialektis sendiri telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dan digunakan lagi oleh filsafat Jerman yang muncul di abad ke-18 dan berpuncak pada Hegel. Namun, Hegel adalah seorang idealis. Baginya, gagasan bukan cerminan dari kenyataan dan proses riil, tetapi sebaliknya, kenyataan dan perkembangannya adalah perwujudan dari ’Ide’ yang sudah ada sejak dulu. Akibatnya, sistem dialektika Hegelian terjatuh ke dalam kontradiksi yang tak bisa dipecahkan. Di satu sisi, ia memiliki proposisi pokok bahwa sejarah manusia merupakan sebuah proses perkembangan, yang karena wataknya, tidak bisa mencapai finalitas dalam sebuah ’kebenaran absolut,’ tetapi di sisi lain, ia mengklaim pemikirannya sebagai esensi dari kebenaran absolut itu. Dialektika, walau bagaimanapun, harus memberi ruang bagi perkembangan pengetahuan dan tidak bisa menutupnya.
Kontradiksi yang ada dalam idealisme Jerman, membawa kita kembali ke ’materialisme modern’ yang pada dasarnya sudah dialektis, karena merupakan refleksi dari alam yang juga dialektis. Engels optimis bahwa jika tiap cabang ilmu memperjelas posisinya dalam totalitas hal-ihwal, maka suatu ilmu khusus tentang totalitas, yakni filsafat, tidak lagi diperlukan. Apa yang tersisa dari filsafat hanyalah ilmu tentang pikiran dan hukum-hukumnya, yaitu logika formal dan dialektika. Sementara itu, terkait dengan konsepsi sejarah, fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa semua sejarah―dengan pengecualian fase primitif―adalah sejarah perjuangan kelas. Dan kelas-kelas yang bertarung merupakan hasil dari cara produksi dan pertukaran yang berlaku. Struktur ekonomi adalah basis yang mengondisikan keseluruhan suprastruktur hukum, politik, agama, filsafat dan berbagai gagasan manusia. Gagasan manusia dikondisikan oleh keberadaannya, dan bukan keberadaan manusia yang dikondisikan oleh gagasannya. Inilah konsepsi materialis tentang sejarah.
Sejak adanya konsepsi materialis tentang sejarah, sosialisme tidak lagi dianggap hanya sebagai temuan pikiran, tetapi merupakan hasil dari perjuangan kelas proletariat dengan borjuis. Tugas sosialisme, dengan demikian, bukan merumuskan sebuah sistem kemasyarakatan yang sesempurna mungkin, tetapi mengamati kondisi sosial-historis yang memunculkan kelas-kelas tersebut beserta antagonisme mereka, dan menemukan dalam kondisi ekonomi masyarakat, solusi untuk mengakhiri antagonisme tersebut.
Dalam menyadari asal sosialisme sebagai resolusi dari kontradiksi ini dan mengaplikasikan pemahaman yang teliti terhadap kapitalisme, Engels menegaskan bahwa sosialisme telah melepaskan diri dari keadaan primitif dan menjadi ilmiah. Perubahan dalam sosialisme ini dilihat sebagai perimbangan terhadap perubahan dalam biologi kontemporer yang dilakukan Charles Darwin dan pemahaman evolusi oleh seleksi alam; Marx dan Engels melihat pemahaman baru biologi ini sama pentingnya dengan pemahaman baru sosialisme, dan sebaliknya.
Keberadaan sistem kapitalis yang menginginkan keuntungan dan hak kepemilikan yang selebih-lebihnya ditandingi oleh Marx dengan sosialisme ilmiahnya yang bertujuan mengubah sejarah masyarakat menjadi tatanan yang menyelaraskan kebersamaan. Kapitalis yang muncul atas kesadaran adanya modal yang dapat dilebih besarkan lagi kemudian dilawan oleh proletar sebagai kelas bawah demi berjuang untuk sesamanya.
Marx menggaris bawah kekayaan dan keuntungan bukanlah tujuan kaum proletar melawan kaum kapitalis. Tetapi perebutan alat produksi demi menjamin terjadinya suatu sistem dimana merekalah yang memiliki alat-alat produksi itu secara bersama-sama dan kelas yang berada diatas tidak ada lagi juga tidak adanya kelas yang berada dibawah.
Semuanya sama rata. Dengan kemenangan kepemilkan alat produksi di tangan kaum yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa. Tidak adanya alat kepemilikan maka alat produksi dimiliki secara bersama dan hasil produksi digunakan bersama. Semua memiliki yang dibutuhkan. Semua orang bekerja untuk sesama.
Sabtu, 06 Juli 2019
MENGENAL LAGU INTERNATIONALE
"Bangunlah kaum yang terhina.
Bangunlah kaum yang lapar,
Kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar"
Bangunlah kaum yang lapar,
Kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar"
Itulah penggalan lirik dari salah satu lagu yang sering saya nyanyikan, Internationale. Di suatu hari, saat saya sedang asyik menyanyikan lagu tersebut, ada seorang teman saya yang berkata, "Woy! Lu ngapain nyanyi lagu itu?!? Lu Komunis ya?!?". Namun, benarkah pernyataan teman saya ini, bahwa lagu Internationale adalah lagu komunis? Mari kita lihat pernyataan Soekarno ini:
“Apa lagu Internasionale itu hanya dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee, PKI ! God dorie! (bahasa Belanda. Jika di artikan, kurang lebih artinya seperti: Astaga) Lagu Internasionale dinyanyikan di London, di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow, di Peking, di Tokio. Pendek, dimana-mana ada kaum buruh mengadakan serikat, menyanyikan lagu Internasionale.”
(dikutip dari buku « Revolusi belum selesai , jilid II, halaman 313).
Pernyataan Soekarno di atas membuktikan bahwa lagu "Internationale" bukanlah lagu bagi orang komunis saja, namun lagu bagi "Seluruh buruh!". Namun, apakah lagu Internationale itu? Dan, mengapa lagu ini sering dicap negatif?
SEJARAH LAGU "INTERNATIONALE"
Internasionale awalnya ditulis dalam bahasa Prancis dengan judul: "L’Internationale". Lagu Internationale ini ditulis oleh seorang buruh kayu asal Prancis, Eugène Pottier. Eugène menulis syairnya enam bait. Lagu ini dipublikasikan pada tanggal 30 Juni 1871.
Eugène Pottier sendiri adalah anggota Komune Paris yang terkemuka, yang merupakan pemerintahan klas buruh yang pertama kali di dunia, yang berkuasa selama 72 hari di Prancis . Eugène Pottier menciptakan lagu "L’Internationale" itu pada saat sebulan sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, atau menurut Lenin, “boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah......”.
Syair Internationale terinspirasi oleh kemenangan Komune Paris, selama 72 hari. Inti lagunya menyatakan, kelas-kelas tertindas dan terhisap di dunia harus berjuang dan merebut hak-haknya dengan bersandar pada kekuatannya sendiri serta menciptakan dunia yang lebih adil. Mulanya Internasionale dinyanyikan oleh berbagai kelompok antikapitalisme dengan berbagai kecenderungan ideologi. Internationale kemudian diadopsi oleh Internasionale II dan menjadi anthem Uni Soviet sejak 1922-1944.
L’Internationale telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia. Ada bahasa Inggris, Spanyol, Afrika, Arab, Melayu, Indonesia, dll. Diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Internationale, ke bahasa Arab menjadi Nasyidu al-Umamiyah, ke bahasa Belanda menjadi De Internationale, dan ke bahasa Indonesia menjadi Internasionale.
MASUKNYA LAGU INTERNATIONALE KE BUMI NUSANTARA
Internasionale sudah dikenal luas di Indonesia sejak tahun 1920-an. Terjemahan pertama ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara. Hasil terjemahan Ki Hadjar Dewantara tersebut kemudian dipublikasikan dalam Sinar Hindia No. 87, 5 Mei 1920. Di surat kabar tersebut pula, dalam nomor penerbitan yang sama, Dewantara menerjemahkan Marsch Socialist. Publikasi dua terjemahan tersebut dimaksudkan untuk memperingati 1 Mei, sebagai “Hari Raja oenteok segala kaoem Socialist”. Akan tetapi, terjemahan itu dicela oleh Komunis Internasional karena dianggap telah menghilangkan roh proletariat.
Dari terjemahan Ki Hajar Dewantara, Internasionale tersebar di kalangan gerakan rakyat. Lagu tersebut bersama lagu "Darah Rakyat" kerap dinyanyikan di sekolah-sekolah yang dibangun oleh kaum pergerakan, meramaikan pemogokan dan rapat-rapat umum. Dengan merujuk pada hasil terjemahan Ki Hajar Dewantara dan mengubah beberapa kalimatnya, PKI menetapkan Internasionale sebagai mars partai.
PENUTUP
Melihat hal itu semua, maka kiranya untuk selanjutnya di Indonesia pun lagu Internasionale juga perlu dipakai sebagai pembangkit semangat perjuangan gerakan buruh, dan mendorong persatuan serta menggalang setiakawan dalam melawan segala macam ketidak-adilan dan pemerasan oleh kalangan kapitalis reaksioner nasional maupun internasional, yang bersekongkol dengan para penguasa. mengumandangkan lagu Internasionale merupakan penghormatan kepada pengorbanan para Digulis yang banyak meninggal di pembuangan Tanah Merah dan para perintis kemerdekaan lainnya. Menyanyikan lagu Internasionale bisa juga berarti menunjukkan sikap marah dan kebencian terhadap segala bentuk ketidakadilan. Di samping itu, mengumandangkan lagu Internasionale juga berarti ikut melestarikan jiwa perjuangan revolusioner Bung Karno.
Jumat, 05 Juli 2019
SOSIALISME UTOPIS
“Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’. ” Demikianlah Kata-kata Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso-TAVIP”, pada tanggal 17 Agustus 1964.
Dalam pidatonya, Bung Karno menjelaskan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan Bangsa Indonesia. Bagi Bung Karno, Kemerdekaan itu hanyalah 'jembatan emas' yang menghantarkan Indonesia kepada fase yang lebih adil. Ia hanyalah penghubung menuju cita-cita masyarakat tanpa eksploitasi sesama manusia, Sosialisme Indonesia.
Namun, apakah Sosialisme itu? Jika anda bertanya hal ini kepada beberapa orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Mungkin, ada yang menjawab bahwa, "Sosialisme adalah ideologi yang dicetuskan oleh Karl Marx", adapula yang mungkin mengatakan, "Sosialisme adalah sistem ekonomi di negara Uni Soviet, RRC, Vietnam, dll". Namun, benarkah demikian? Bagaimana sejarah konsep Sosialisme? Dan, bagaimana konsepsi awal Sosialisme?
SOSIALISME UTOPIS, SEBAGAI SOSIALISME 'PURBA'
Banyak orang beranggapan bahwa Sosialisme berasal dari ajaran Karl Marx (Marxisme). Hal ini keliru, sebab jauh sebelum Marx sudah ada pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan tentang kebersamaan dan kolektivisme. Banyak dari gagasan-gagasan yang akan menjadi pokok pemikirannya, diperolehnya dari pemikiran para pemikir Sosialis sebelumnya. kebersamaan dan kolektivisme.
Pada dasarnya, Sosialisme adalah falsafah, ideologi, cita-cita, ajaran, gerakan, politik, atau sistem ekonomi politik, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepemilikan kolektif, atas kepemilikan pribadi.
Gagasan atau ide Sosialisme sendiri, setidaknya telah ditemukan dalam kebudayaan Yunani kuno. Kasta para Filsuf, yang menurut Plato harus memimpin negara tidak boleh memunyai milik pribadi, dan tidak berkeluarga, memiliki segalanya bersama, dan hidup menurut aturan yang sama. Namun, konsep Sosialisme ini terbatas pada kasta calon pemimpin. Masyarakat sendiri tertata secara hierarkis dan tentu saja, bebas memunyai hak milik.
Perkembangan dari ide Sosialisme pun terus berlanjut hingga Revolusi Perancis meletus. Berbeda dari konsepsi sebelumnya, ide Sosialisme modern ini mengambil motif barunya. Motif-motif Sosialis di abad pertengahan yang berkaitan erat dengan paham-paham religius tertentu, kini mengambil motif barunya yaitu keadaan sosial. Ide Sosialisme modern ini muncul sebagai reaksi dari kegagalan Revolusi Perancis dalam membawa kesejahteraan. Cita-cita revolusi Perancis yakni kebebasan, persamaan, dan persaudaraan dianggap telah gagal. Francois-Noel Babeuf adalah orang yang dianggap pertama kali menyuarakan ide Sosialisme modern ini. Perjuangan Babeuf ini pun diikuti pemikir-pemikir Sosialisme modern lainnya.
Beberapa tahun kemudian, Karl Marx muncul dengan ide-ide Sosialisme yang lebih ilmiah. Ia mendasarkan Sosialismenya dengan hukum-hukum perkembangan masyarakat. Karl Marx sendiri menggunakan kata "Sosialisme Utopis" untuk menjelaskan ide Sosialisme sebelum dirinya. Sosialisme ini dikatakan "Utopis" sebab pemikiran-pemikiran mereka hanya dituangkan dalam bentuk ide atau gagasan saja, tetapi tidak direalisasikan dalam dunia yang objektif.
Kata "Utopis" sendiri berasal dari sebuah buku yang berjudul "Tentang keadaan negara yang terbaik dan tentang pulau yang baru Utopia", yang ditulis oleh Thomas More, seorang Kanselir Inggris di masa pemerintahan Raja Henry VIII.
Di pulau Utopia tidak akan ada lagi milik perorangan, semua orang menikmati pendapatan yang sama, dan semua orang harus bekerja. Masing-masing dari mereka bekerja di tanah atau di bengkel sendiri, tetapi bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai karyawan komunitas. Waktu kerja harian adalah 6 jam. Kewajiban belajar yang umum bagi anak laki-laki maupun perempuan, serta kebebasan agama yang mutlak. Namun, dalam pulau ini, masalah-masalah politik tidak boleh dibahas secara umum.
Engels menjelaskan bahwa kaum Sosialis Utopis menentang organisasi masyarakat yang sudah ada, tetapi tidak dapat menerangkannya. Kaum Sosialis Utopis hanya dapat menolaknya sebagai sesuatu yang immoral. Filsuf Richard Schmitt, dalam bukunya Introduction to Marx and Engels, coba meringkas kirtik Marx dan Engels terhadap kalangan sosialisme utopis ini ke dalam lima poin berikut: pertama, karena kapitalisme belum begitu berkembang pada tahun 1880, saat ketika Fourier dan Saint-Simon menulis, dan pada 1830an ketika Owen coba mempraktekkan keyakinannya, maka kalangan utopian ini tidak memahami apa itu kapitalisme; kedua, sebagai konsekuensinya, mereka tidak mengerti tentang perjuangan kelas; ketiga, sebagai gantinya mereka kemudian mengandalkan aksi-aksi pemimpin agung – biasanya adalah diri mereka sendiri – guna menggantikan aksi-aksinya kaum proletariat; keempat, kalangan utopis ini tidak bisa mengerti hubungan antara yang dipikirkan oleh rakyat dengan kondisi-kondisi material dimana pemikiran mereka itu muncul; dan kelima, kalangan utopian ini gagal melihat bahwa perubahan-perubahan sosial itu hanya mungkin jika kondisi-kondisi bagi perubahan itu tersedia. Misalnya, keinginan rakyat untuk melakukan perubahan sosial itu jelas sangat penting, tapi sekaligus tidak mencukupi untuk melakukan perubahan. Bagi Marx dan Engels, sebuah perubahan sosial dan politik yang luar biasa, hanya mungkin jika sistem politik dan ekonomi telah siap untuk terjadinya perubahan itu.
PENUTUP
Walaupun pemikiran dari Sosialisme Utopis ini tidak sepopuler ajaran Sosialisme Ilmiah dari Karl Marx, namun peran Sosialisme Utopis ini tidak perlu diragukan lagi. Sosialisme Utopis ini terbukti berkontribusi besar bagi pemikiran Karl Marx, antara lain anggapan bahwa revolusi sosial merupakan akibat dari akumulasi kekayaan di satu pihak dan kemiskinan di pihak lain, analogi antara keterasingan religius dan ekonomi, mengenai kesadaran proletariat, dll.
Langganan:
Postingan (Atom)






