"Anak-anak, seperti yang sudah ibu bilang kemarin, besok kalian akan presentasi. Dalam presentasi itu, kalian boleh memakai sebuah ilustrasi, baik itu ilustrasi audio maupun visual." Demikianlah kata guru saya, mengakhiri pelajaran IPS yang telah berlangsung. Setelah guru saya berkata demikian, riuhlah seisi kelas saya (yang pada saat itu, saya masih duduk di bangku SMP), yang menandakan bahwa setiap kelompok belajar sedang mendiskusikan rencana presentasi tersebut. Di tengah kegaduhan tersebut, tiba-tiba seorang teman saya mengangkat tangannya dan bertanya kepada guru itu, "Bu, boleh pakai lagu Genjer-genjer ngga?". Jawab guru itu, kepada teman saya, yang bernama Dito itu, "Ya kena, angger isa ya nganggo logo palu-arit sisan" (Bhs. Indonesia: ya boleh, kalau bisa ya pakai simbol palu-arit sekalian).
Ya, lagu "Genjer-genjer" ini memang sangat lekat dengan ideologi komunisme, ideologi utama dari salah satu partai terbesar dimasa demokrasi terpimpin, PKI. Melalui film propaganda "Pengkhianatan G 30/S PKI", pemerintah Orde Baru telah berhasil menanamkan stigma buruk terhadap lagu ini. Lagu "Genjer-genjer" oleh mayoritas kalangan, ditempatkan sekelas dengan simbol palu arit. Berbahaya, subversif, dan bertentangan dengan Ketetapan MPRS XXV/1966.
Setelah Soeharto dan Orde Baru tumbang, barulah semua mulai terang. Film Pengkhianatan murni fiksi, termasuk adegan Gerwani menyilet wajah para Jenderal sembari bersenandung "Genjer-Genjer." Meski sejarah September 1965 mulai benderang, namun lagu ini tetap berada di sisi gelap sejarah Indonesia. Masih sangat banyak orang yang menganggap bahwa lagu "Genjer-genjer" ini adalah lagu yang membawa unsur komunisme. Padahal, jika kita analisa kembali, lagu ini sama sekali tidak memiliki unsur komunisme.
SEJARAH LAGU GENJER-GENJER
Lagu "Genjer-genjer" dibuat sekitar tahun 1942. Syair lagu "Genjer-genjer" ini diciptakan oleh Muhammad Arief, seorang seniman pemukul alat instrumen Angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arief, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syair baru seperti dalam lagu genjer-genjer.
Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas masa pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sengsara dibanding sebelumnya. Ketika Jepang menjajah Indonesia, banyak warga kelaparan dan terpaksa memakan tumbuhan ‘genjer’ (Limnocharis flava), tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa, yang sebelumnya dikonsumsi itik.
Lagu “Genjer-Genjer” menjadi lebih populer ketika lagu ini dinyanyikan ulang oleh Bing Slamet, dan juga Lilis Suryani pada tahun 1962. Pada masa pemerintahan Sukarno, banyak musikus memainkan lagu ini di istana.
Kepopuleran lagu ini lantas dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk berkampanye. Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitasnya. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Lagu yang menggambarkan penderitaan masyarakat desa ini lantas kembali populer di kalangan kelas bawah. Begitu lekatnya lagu ini dengan PKI, maka stempel sebagai lagu komunis pun melekat.
Setelah terjadi peristiwa 30 September 1965, beberapa media seperti Angkatan Bersendjata, koran Pantjasila, dan Berita Yudha memuat berita tentang secarik kertas berisi notasi lagu "Genjer-Genjer". Notasi dan lirik lagu di kertas itu berbeda dengan lirik aslinya. Media-media itu juga menurunkan berita bohong tentang penyiksaan para jenderal.
Propaganda terhadap lagu "Genjer-Genjer" semakin langgeng karena film Pengkhianatan. Lagu itu kemudian menjadi sinonim PKI, dan karenanya dibenci sekaligus ditakuti. Utan Parlindungan dalam Mitos Genjer-Genjer: Politik Makna dalam Lagu (2014), menyebut lagu "Genjer-Genjer" sebagai, "bid'ah, larangan terkutuk yang menyetarakannya seperti hukum Tuhan, dalam kitab-kitab suci agama samawi" karena propaganda Orde Baru.
PENUTUP
Melihat bagaimana masih ada orang-orang yang ketakutan pada lagu "Genjer-Genjer" membuktikan setidaknya dua hal. Pertama, propaganda puluhan tahun Orde Baru masih kuat menancap di sebagian orang. Kedua, jalan menuju sejarah Indonesia yang terang masih amat panjang, dan tentu saja melelahkan. "Genjer-Genjer" menjadi salah satu indikatornya.
Sudah menjadi keharusan kitalah untuk menjelaskan kembali, sejarah yang telah dipalsukan. Mengatakan bahwa lagu "Genjer-genjer" adalah lagu buatan PKI adalah sama mengatakan, bahwa lagu "Yang terlupakan" merupakan lagu karangan Ariel-Noah. Apakah ini benar? Tentu saja tidak, sebab sebelum Ariel-Noah memopulerkan kembali lagu ini, lagu ini telah ada.
Memang benar bahwa PKI turut ambil bagian dalam memopulerkan lagu "Genjer-genjer" ini. Namun, hal ini bukan berarti bahwa lagu "Genjer-genjer" membawa unsur komunisme. Lagu "Genjer-genjer" adalah suara kesengsaraan rakyat. Lagu "Genjer-genjer" akan tetap dan selalu relevan, selama ketidakadilan masih terjadi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar