Jumat, 05 Juli 2019

SOSIALISME UTOPIS



“Revolusi kita bukan sekadar mengusir Pemerintahan Belanda dari Indonesia. Revolusi kita menuju lebih jauh lagi daripada itu. Revolusi Indonesia menuju tiga kerangka yang sudah terkenal. Revolusi Indonesia menuju kepada Sosialisme! Revolusi Indonesia menuju kepada Dunia Baru tanpa ‘exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation’. ” Demikianlah Kata-kata Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso-TAVIP”, pada tanggal 17 Agustus 1964.

     Dalam pidatonya, Bung Karno menjelaskan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan Bangsa Indonesia. Bagi Bung Karno, Kemerdekaan itu hanyalah 'jembatan emas' yang menghantarkan Indonesia kepada fase yang lebih adil. Ia hanyalah penghubung menuju cita-cita masyarakat tanpa eksploitasi sesama manusia, Sosialisme Indonesia.

     Namun, apakah Sosialisme itu? Jika anda bertanya hal ini kepada beberapa orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Mungkin, ada yang menjawab bahwa, "Sosialisme adalah ideologi yang dicetuskan oleh Karl Marx", adapula yang mungkin mengatakan, "Sosialisme adalah sistem ekonomi di negara Uni Soviet, RRC, Vietnam, dll". Namun, benarkah demikian? Bagaimana sejarah konsep Sosialisme? Dan, bagaimana konsepsi awal Sosialisme?


SOSIALISME UTOPIS, SEBAGAI SOSIALISME 'PURBA'

     Banyak orang beranggapan bahwa Sosialisme berasal dari ajaran Karl Marx (Marxisme). Hal ini keliru, sebab jauh sebelum Marx sudah ada pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan tentang kebersamaan dan kolektivisme. Banyak dari gagasan-gagasan yang akan menjadi pokok pemikirannya, diperolehnya dari pemikiran para pemikir Sosialis sebelumnya. kebersamaan dan kolektivisme.

     Pada dasarnya, Sosialisme adalah falsafah, ideologi, cita-cita, ajaran, gerakan, politik, atau sistem ekonomi politik,  yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepemilikan kolektif, atas kepemilikan pribadi.

     Gagasan atau ide Sosialisme sendiri, setidaknya telah ditemukan dalam kebudayaan Yunani kuno. Kasta para Filsuf, yang menurut Plato harus memimpin negara tidak boleh memunyai milik pribadi, dan tidak berkeluarga, memiliki segalanya bersama, dan hidup menurut aturan yang sama. Namun, konsep Sosialisme ini terbatas pada kasta calon pemimpin. Masyarakat sendiri tertata secara hierarkis dan tentu saja, bebas memunyai hak milik.

     Perkembangan dari ide Sosialisme pun terus berlanjut hingga Revolusi Perancis meletus. Berbeda dari konsepsi sebelumnya, ide Sosialisme modern ini mengambil motif barunya. Motif-motif Sosialis di abad pertengahan yang berkaitan erat dengan paham-paham religius tertentu, kini mengambil motif barunya yaitu keadaan sosial. Ide Sosialisme modern ini muncul sebagai reaksi dari kegagalan Revolusi Perancis dalam membawa kesejahteraan. Cita-cita revolusi Perancis yakni kebebasan, persamaan, dan persaudaraan dianggap telah gagal. Francois-Noel Babeuf adalah orang yang dianggap pertama kali menyuarakan ide Sosialisme modern ini. Perjuangan Babeuf ini pun diikuti pemikir-pemikir Sosialisme modern lainnya.

     Beberapa tahun kemudian, Karl Marx muncul dengan ide-ide Sosialisme yang lebih ilmiah. Ia mendasarkan Sosialismenya dengan hukum-hukum perkembangan masyarakat. Karl Marx sendiri menggunakan kata "Sosialisme Utopis" untuk menjelaskan ide Sosialisme sebelum dirinya. Sosialisme ini dikatakan "Utopis" sebab pemikiran-pemikiran mereka hanya dituangkan dalam bentuk ide atau gagasan saja, tetapi tidak direalisasikan dalam dunia yang objektif.

     Kata "Utopis" sendiri berasal dari sebuah buku yang berjudul "Tentang keadaan negara yang terbaik dan tentang pulau yang baru Utopia", yang ditulis oleh Thomas More, seorang Kanselir Inggris di masa pemerintahan Raja Henry VIII.

     Di pulau Utopia tidak akan ada lagi milik perorangan, semua orang menikmati pendapatan yang sama, dan semua orang harus bekerja. Masing-masing dari mereka bekerja di tanah atau di bengkel sendiri, tetapi bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai karyawan komunitas. Waktu kerja harian adalah 6 jam. Kewajiban belajar yang umum bagi anak laki-laki maupun perempuan, serta kebebasan agama yang mutlak. Namun, dalam pulau ini, masalah-masalah politik tidak boleh dibahas secara umum.

     Engels menjelaskan bahwa kaum Sosialis Utopis menentang organisasi masyarakat yang sudah ada, tetapi tidak dapat menerangkannya. Kaum Sosialis Utopis hanya dapat menolaknya sebagai sesuatu yang immoral. Filsuf Richard Schmitt, dalam bukunya Introduction to Marx and Engels, coba meringkas kirtik Marx dan Engels terhadap kalangan sosialisme utopis ini ke dalam lima poin berikut: pertama, karena kapitalisme belum begitu berkembang pada tahun 1880, saat ketika Fourier dan Saint-Simon menulis, dan pada 1830an ketika Owen coba mempraktekkan keyakinannya, maka kalangan utopian ini tidak memahami apa itu kapitalisme; kedua, sebagai konsekuensinya, mereka tidak mengerti tentang perjuangan kelas; ketiga, sebagai gantinya mereka kemudian mengandalkan aksi-aksi pemimpin agung – biasanya adalah diri mereka sendiri – guna menggantikan aksi-aksinya kaum proletariat; keempat, kalangan utopis ini tidak bisa mengerti hubungan antara yang dipikirkan oleh rakyat dengan kondisi-kondisi material dimana pemikiran mereka itu muncul; dan kelima, kalangan utopian ini gagal melihat bahwa perubahan-perubahan sosial itu hanya mungkin jika kondisi-kondisi bagi perubahan itu tersedia. Misalnya, keinginan rakyat untuk melakukan perubahan sosial itu jelas sangat penting, tapi sekaligus tidak mencukupi untuk melakukan perubahan. Bagi Marx dan Engels, sebuah perubahan sosial dan politik yang luar biasa, hanya mungkin jika sistem politik dan ekonomi telah siap untuk terjadinya perubahan itu.


PENUTUP

Walaupun pemikiran dari Sosialisme Utopis ini tidak sepopuler ajaran Sosialisme Ilmiah dari Karl Marx, namun peran Sosialisme Utopis ini tidak perlu diragukan lagi. Sosialisme Utopis ini terbukti berkontribusi besar bagi pemikiran Karl Marx, antara lain anggapan bahwa revolusi sosial merupakan akibat dari akumulasi kekayaan di satu pihak dan kemiskinan di pihak lain, analogi antara keterasingan religius dan ekonomi, mengenai kesadaran proletariat, dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar