Selasa, 09 Juli 2019

SOSIALISME ILMIAH



"Marxisme mengubah sosialisme menjadi sebuah pengetahuan ilmiah, tetapi ini tidak menghalangi beberapa ‘kaum Marxis’ untuk mengubah Marxisme menjadi utopisme." Demikianlah kata Leon Trotsky, dalam karyanya yang berjudul "Hasil dan Prospek".

     Dalam tulisan di atas, Trotsky menegaskan bahwa, Sosialisme, yang dulu hanya bersifat utopis belaka, yang dulu hanya berdasarkan nilai-nilai moral saja, kini telah menjadi Sosialisme yang ilmiah dan berdasarkan fakta yang objektif. Inilah yang membedakan Sosialisme Karl Marx dengan Sosialisme lainnya. Marx mendasarkan Sosialismenya pada penelitian syarat-syarat objektif perkembangan masyarakat.

     Klaim ini sangat penting untuk memahami teori Marx. Marx menolak pendasaran Sosialisme pada pertimbangan-pertimbangan moral. Sosialisme tidak akan datang karena dinilai baik atau karena kapitalisme dinilai jahat, melainkan karena, dan kalau, syarat-syarat objektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi terpenuhi.


SOSIALISME ILMIAH, SOSIALISME ALA KARL MARX

Sosialisme ilmiah atau Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat yang bernama dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat dan juga Timur, yang kemudian disatukan, disintesakan, oleh Marx menjadi dialektika materialisme. Sosialisme yang dicetuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dapat kita temui dalam buku-buku Marx, khususnya dalam bukunya yang berjudul "Manifesto Communist"

     Penalaran dialektis sendiri telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dan digunakan lagi oleh filsafat Jerman yang muncul di abad ke-18 dan berpuncak pada Hegel. Namun, Hegel adalah seorang idealis. Baginya, gagasan bukan cerminan dari kenyataan dan proses riil, tetapi sebaliknya, kenyataan dan perkembangannya adalah perwujudan dari ’Ide’ yang sudah ada sejak dulu. Akibatnya, sistem dialektika Hegelian terjatuh ke dalam kontradiksi yang tak bisa dipecahkan. Di satu sisi, ia memiliki proposisi pokok bahwa sejarah manusia merupakan sebuah proses perkembangan, yang karena wataknya, tidak bisa mencapai finalitas dalam sebuah ’kebenaran absolut,’ tetapi di sisi lain, ia mengklaim pemikirannya sebagai esensi dari kebenaran absolut itu. Dialektika, walau bagaimanapun, harus memberi ruang bagi perkembangan pengetahuan dan tidak bisa menutupnya.

     Kontradiksi yang ada dalam idealisme Jerman, membawa kita kembali ke ’materialisme modern’ yang pada dasarnya sudah dialektis, karena merupakan refleksi dari alam yang juga dialektis. Engels optimis bahwa jika tiap cabang ilmu memperjelas posisinya dalam totalitas hal-ihwal, maka suatu ilmu khusus tentang totalitas, yakni filsafat, tidak lagi diperlukan. Apa yang tersisa dari filsafat hanyalah ilmu tentang pikiran dan hukum-hukumnya, yaitu logika formal dan dialektika. Sementara itu, terkait dengan konsepsi sejarah, fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa semua sejarah―dengan pengecualian fase primitif―adalah sejarah perjuangan kelas. Dan kelas-kelas yang bertarung merupakan hasil dari cara produksi dan pertukaran yang berlaku. Struktur ekonomi adalah basis yang mengondisikan keseluruhan suprastruktur hukum, politik, agama, filsafat dan berbagai gagasan manusia. Gagasan manusia dikondisikan oleh keberadaannya, dan bukan keberadaan manusia yang dikondisikan oleh gagasannya. Inilah konsepsi materialis tentang sejarah.

     Sejak adanya konsepsi materialis tentang sejarah, sosialisme tidak lagi dianggap hanya sebagai temuan pikiran, tetapi merupakan hasil dari perjuangan kelas proletariat dengan borjuis. Tugas sosialisme, dengan demikian, bukan merumuskan sebuah sistem kemasyarakatan yang sesempurna mungkin, tetapi mengamati kondisi sosial-historis yang memunculkan kelas-kelas tersebut beserta antagonisme mereka, dan menemukan dalam kondisi ekonomi masyarakat, solusi untuk mengakhiri antagonisme tersebut.


     Dalam menyadari asal sosialisme sebagai resolusi dari kontradiksi ini dan mengaplikasikan pemahaman yang teliti terhadap kapitalisme, Engels menegaskan bahwa sosialisme telah melepaskan diri dari keadaan primitif dan menjadi ilmiah. Perubahan dalam sosialisme ini dilihat sebagai perimbangan terhadap perubahan dalam biologi kontemporer yang dilakukan Charles Darwin dan pemahaman evolusi oleh seleksi alam; Marx dan Engels melihat pemahaman baru biologi ini sama pentingnya dengan pemahaman baru sosialisme, dan sebaliknya.

     Keberadaan sistem kapitalis yang menginginkan keuntungan dan hak kepemilikan yang selebih-lebihnya ditandingi oleh Marx dengan sosialisme ilmiahnya yang bertujuan mengubah sejarah masyarakat menjadi tatanan yang menyelaraskan kebersamaan. Kapitalis yang muncul atas kesadaran adanya modal yang dapat dilebih besarkan lagi kemudian dilawan oleh proletar sebagai kelas bawah demi berjuang untuk sesamanya.

     Marx menggaris bawah kekayaan dan keuntungan bukanlah tujuan kaum proletar melawan kaum kapitalis. Tetapi perebutan alat produksi demi menjamin terjadinya suatu sistem dimana merekalah yang memiliki alat-alat produksi itu secara bersama-sama dan kelas yang berada diatas tidak ada lagi juga tidak adanya kelas yang berada dibawah.

     Semuanya sama rata. Dengan kemenangan kepemilkan alat produksi di tangan kaum yang sebelumnya tidak memiliki apa-apa. Tidak adanya alat kepemilikan maka alat produksi dimiliki secara bersama dan hasil produksi digunakan bersama. Semua memiliki yang dibutuhkan. Semua orang bekerja untuk sesama.

1 komentar: