Kamis, 04 Juli 2019

MENGENAL KEMBALI MARHAENISME, MARXISME ALA INDONESIA ( I )



Suatu pagi di tahun 1920-an, Bung Karno mengayuh sepeda tak tentu arah dan tujuan. Hingga tanpa sadar dia sudah ada di pelosok Bandung bagian selatan. Pandangannya membentur sosok petani yang tengah mencangkul sawah. Dia menghentikan sepedanya dan mendekati sang petani. Bung Karno pun lantas bercakap-cakap dengan si petani itu.

“Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?” tanya Bung Karno.

“Saya, Juragan,” jawab sang petani.

“Apakah kau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”

“Oh tidak, Gan. Saya memilikinya sendiri.”

“Apa kau membeli tanah ini?”

“Tidak. Tanah ini diwariskan secara turun temurun dari orangtua saya.”

“Bagaimana dengan sekopmu? Milikmu juga?”

“Ya, Gan.”

“Dan cangkul itu?”

“Milik saya juga, Gan.”

“Bajak?”

“Juga milik saya.”

“Lalu hasilnya untuk siapa?”

“Untuk saya, Gan.”

“Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”

“Bagaimana mungkin sawah yang begitu sempit ini bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat anak?”

“Tapi semua ini milikmu?”

“Iya, Gan.”

     Bung Karno terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi benaknya. Pada bagian akhir pertanyaannya, dia teringat teori yang dilontarkan ahli ekonomi tentang suatu kelas yang disebut sebagai “penderita minimum”. Inikah dia?

“Siapa namamu?”

“Marhaen.”

     Semenjak itulah, Bung Karno semacam mendapatkan sebuah 'wahyu' untuk memberikan istilah Marhaen bagi mayoritas warga Indonesia yang mengalami nasib yang sama seperti si petani itu.

     Ya, Marhaen. Apakah anda pernah mendengar istilah Marhaen? Bagi orang awam, istilah Marhaen mungkin masih terdengar asing. Namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi mereka para penggemar politik dan sejarah. Istilah Marhaen memang sering muncul dalam buku-buku sejarah dan politik di Indonesia. Selain itu, ada banyak gerakan politik, baik partai maupun organisasi massa, yang gandrung menggunakan istilah “Marhaen” ini.

     Di jaman yang modern ini, banyak orang yang merancukan definisi dari istilah Marhaen tersebut. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa Marhaen adalah golongan "wong-wong cilik"(orang-orang kecil). Adapula yang mengatakan bahwa Marhaen adalah sinonim dari kata Proletar. Akibat dari penyamarataan arti ini, istilah Marhaen seolah-olah tidak memiliki definisi yang pasti. Hasilnya, banyak orang yang menggunakan istilah Marhaen ini secara asal-asalan.

     Namun, apa arti dari istilah Marhaen? Apakah Marhaen itu sama dengan Proletar? Dan mengapa Bung Karno begitu menekankan golongan Marhaen ini?


DEFINISI MARHAEN

Setelah melihat kebingungan akan arti Marhaen tersebut, mari kita analisis istilah tersebut secara mendalam. Jika kita mendasarkan arti Marhaen tersebut dengan kisah antara Bung Karno dengan pak Marhaen, maka arti dari Marhaen itu berbeda dari proletar.

     Menurut kisah tersebut, orang Marhaen adalah orang yang: pertama, memiliki sebuah produksi kecil. Kedua, tidak menyewa atau mempekerjajakan orang lain. Alat produksi itu dikerjakan dengan tenaga sendiri (plus keluarga). Ketiga, tidak punya majikan. Keempat, hasil produksinya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarganya. Kadang hasil produksinya pas-pasan.

     Atau dalam salah satu perkataannya, Soekarno menjelaskan bahwa "seorang marhaen adalah seorang yang mempunyai alat produksi kecil; seorang kecil dengan alat produksi kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri."

     Tentu pengertian Marhaen ini berbeda dengan pengertian Proletar. Menurut Friedrich Engels dalam karyanya yang berjudul "Principles of Communism", Proletariat adalah kelas dalam masyarakat yang sepenuhnya hidup dengan menjual kerjanya dan tidak mengambil profit dari kapital manapun; yang nasib baik dan nasib buruknya, yang hidup dan matinya, yang eksistensinya, bergantung pada permintaan atas kerja – karena itu, bergantung pada kondisi bisnis yang berubah-ubah, pada perubahan-perubahan yang tak terduga dari persaingan yang tak terkendali. Proletariat, atau kelas proletar, pendeknya, adalah kelas pekerja Abad ke-19 X.

     Atau, jika kita menggunakan kamus Politik F.R. (Fikiran Ra’jat-ed) nomor percontohan istilah ini telah kita jelaskan dengan singkat. Proletar ialah orang yang dengan menjual tenaganya “membuat” sesuatu “barang” untuk orang lain (majikannya), sedang ia tidak ikut memiliki alat-alat pembuatan “barang” itu. Ia tidak ikut memiliki produktie-middlen. Seorang letterzetter adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang letter-letter yang ia zet itu bukan miliknya. Seorang masinis adalah seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang lokomotif yang ia jalankan bukan miliknya. Seorang insinyur yang masuk kerja pada orang lain adalah juga seorang proletar, karena ia menjual tenaganya, sedang kantor atau besi-besi atau semen yang ia usahakan itu bukan miliknya. Insinyur ini biasanya disebutkan “proletar intelektual”.

     Namun, pada tahun 1933, Bung Karno memberikan perluasan makna terhadap istilah Marhaen itu. Pada pidatonya di depan konferensi PARTINDO, di Mataram, Yogyakarta, Bung Karno menjelaskan bahwa "Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain."

     Lebih lanjut, penjelasan tentang istilah Marhaen dapat kita temukan dalam pidato tertulis PJM Presiden Sukarno pada Konferensi Besar GMNI di Kaliurang Jogjakarta, 17 Februari 1959, yang berbunyi, "Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme."


ANTARA MARHAEN DAN PROLETAR

Mungkin setelah anda membaca penjelasan di atas, anda akan bertanya, "Mengapa klas Marhaen yang ditekankan Soekarno? Mengapa bukan klas Proletar? Bukankah menurut Karl Marx, kelas Proletar adalah klas yang paling revolusioner?"

     Ya, walaupun Bung Karno lebih menekankan kelas Marhaen, namun Bung Karno tidak menihilkan fakta bahwa klas Proletar adalah kelas yang revolusioner. Bung Karno dengan jelas menyatakan bahwa "kaum Proletar sebagai klas adalah hasil langsung daripada kapitalisme dan imperialisme. Mereka adalah kenal akan pabrik, kenal akan mesin, kenal akan listrik, kenal akan cara produksi kapitalisme, kenal akan kemodernannya abad keduapuluh. Mereka ada pula lebih langsung menggenggam mati hidupnya kapitalisme di dalam mereka punya tangan, lebih direct (langsung, ed.) mempunyai gevechtswaarde anti kapitalisme. Oleh karena itu, adalah rasionil jika mereka yang di dalam perjuangan anti kapitalisme dan imperialisme itu berjalan di muka, jika mereka yang menjadi pandu, jika mereka yang menjadi “voorlooper”, -jika mereka yang menjadi “pelopor”."

     Bung Karno menekankan klas Marhaen bukanlah tanpa alasan. Fakta menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, yang hidup dijaman itu, adalah klas Marhaen, itulah landasan Bung Karno untuk menekankan klas Marhaen ini.

     Namun, Bung Karno pun mengakui, "Di dalam perjuangan Marhaen itu maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang besar sekali." Kaum buruhlah yang harus menjadi “pembawa panji-panji”. Sebagaimana yang kita ketahui dalam peperangan, bahwa seluruh tentara berperan dalam merebut kemenangan tersebut, namun ada suatu barisan yang menjadi kunci kemenangannya. Suatu barisan yang berperang di barisan terdepan, berkelahi mati-matian dimuka, -mempengaruhi dan menjalankan kenekatan dan keberaniannya, dan barisan ini adalah barisannya barisan pelopor. Jika kita umpamakan, tentara kita adalah benar tentaranya Marhaen, tentaranya klas Marhaen, tentara yang banyak mengambil tenaganya kaum tani, tetapi barisan pelopor kita adalah barisannya kaum buruh, barisannya kaum Proletar.

     Oleh karena itu, pergerakan kaum Marhaen tidak akan menang, jika tidak sebagai bagian daripada pergerakan Marhaen itu diadakan barisan “buruh dan sekerja” yang kokoh dan berani. Camkanlah ajaran ini, kerjakanlah ajaran ini! Bangunkanlah barisan “buruh dan sekerja” itu, bangkitkanlah semangat dan keinsyafan, susunkanlah semua tenaganya! Pergerakan politik Marhaen umum adalah perlu, -tetapi sarekat buruh dan sekerja adalah juga perlu, amat perlu, teramat perlu, maha perlu dengan tiada hingganya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar