Blog Pacar Merah adalah blog dimana kita dapat mengetahui sejarah, konsep, dan praktek daripada Sosialisme. Dalam blog ini kita dapat melihat seluk beluk dan perkembangan konsep Sosialisme. Di sini, saya akan sedapat mungkin untuk menjawab dengan tepat, segala pertanyaan yang berhubungan dengan Sosialisme. Selamat Membaca. SOSIALISME PASTI JAYA!!!
Rabu, 03 Juli 2019
APAKAH "AGAMA ADALAH CANDU BAGI MASYARAKAT"?
Die Religion ... ist das Opium des Volkes(Bahasa Indonesia: "Agama... adalah opium bagi masyarakat"), adalah kutipan terkenal dari tulisan Karl Marx yang sering disalahartikan. Kutipan ini sering digunakan untuk menyerang Marx, seolah inti ajarannya adalah memusuhi agama, atau sebaliknya oleh yang anti agama untuk memojokkan mereka yang memeluk agama. Kutipan ini adalah salah satu kutipan 'terampuh' bagi para penggila OrBa untuk menyatakan bahwa kaum marxist adalah kaum yang anti agama.
Namun, benarkah demikian? Benarkah kaum marxist adalah kaum yang anti agama? Dan benarkah agama adalah candu? Sebelum kita membahas hal ini secara lebih dalam, baiklah kita melihat pandangan Karl Marx terhadap agama.
KONSEPSI AGAMA DALAM PERSPEKTIF KARL MARX
"Fondasi dari kritisisme irelijius adalah: Manusia menciptakan agama, agama tidak menciptakan manusia. Agama, tentu saja, adalah kesadaran diri sendiri dan kepercayaan diri dari seorang manusia yang bisa belum memenangkan dirinya sendiri, atau sudah kalah terlebih dahulu. Tapi manusia bukanlah makhluk abstrak yang dijongkokkan di luar dunia. Manusia adalah dunia dari manusia, - negara, masyarakat. Negara dan masyarakat ini menciptakan agama, yang merupakan kebalikan dari kesadaran akan dunia, karena mereka adalah dunia yang terbalik. Agama adalah teori umum atas dunia ini, sebuah kompendium ensiklopedis, logikanya dalam bentuk populer, aspek spiritual d'honneurya, antusiasmenya, sanksi moralnya, kesempurnaannya yang datar, dan basis universal dari penghiburan dan pengadilan. Perjuangan melawan agama, dengan demikian, adalah secara tidak langsung adalah perjuangan melawan dunia yang aroma spiritualnya adalah agama.
Penderitaan relijius adalah, pada satu dan saat yang sama, ekspresi dari penderitaan yang nyata dan protes melawan penderitaan yang nyata.
Agama adalah desah napas keluhan (sigh) dari makhluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, jiwa dari kondisi yang tak berjiwa. Agama adalah opium bagi masyarakat.
Penghapusan dari agama sebagai ilusi kebahagiaan dari orang-orang, adalah tuntutan atas kebahagiaan yang nyata. Untuk meminta mereka menyerahkan ilusi atas kondisi mereka sama saja meminta mereka menyerah atas kondisi yang butuh ilusi. Kritisisme atas agama adalah, dengan demikian, dalam bentuk embrio, sebuah kritisime atas lembah airmata yang agama merupakan lingkaran cahaya (halo)nya."
Demikianlah tulis Karl Marx dalam karyanya yang berjudul "A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right". Jika kita membaca tulisan Karl Marx ini secara lengkap, maka kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksud " Agama adalah opium/candu bagi masyarakat" dalam perspektif Karl Marx adalah agama, sebagai sarana untuk 'meringankan' beban manusia. Konteks opium/candu adalah sebagai obat peringan beban pikiran, bukan sebagai opium/candu yang membuat ketergantungan.
Dalam tulisannya ini, Marx menyatakan bahwa agama memiliki fungsi sebagai penenang atau penghibur sementara. Fungsi ini kurang lebih sama seperti fungsi opium terhadap orang sakit atau cedera. Ia mengurangi rasa sakit dan memberi ilusi yang menyenangkan kepada si sakit. Agama seperti halnya obat-obat bius, yang tidak memecahkan persoalan sesungguhnya, tetapi memberikan jalan keluar yang bersifat sementara, supaya orang bisa bertahan di dalam penderitaannya. Agama adalah pelemah semangat perlawanan kaum tertindas terhadap kelas di atasnya yang bersifat opresif dan menjadikan masyarakat sebagai orang yang tidak berjiwa dan tidak berperasaan.
Candu dari agama tersebut memberikan kepuasan, tetapi kepuasan itu semu karena tidak mengubah situasi buruk dari si pecandu. Agama memberikan kepuasan semu tanpa mengubah situasi buruk orang kecil. Agama menjanjikan ganjaran di akhirat bagi orang yang dengan tabah menerima nasibnya. Jadi, menurut Karl Marx, karena agama, rakyat kecil tidak memiliki semangat untuk memerjuangkan nasibnya, tetapi malah bersedia menerima segala penghisapan dan penindasan yang dideritanya, hal yang justru menguntungkan klas-klas penindas.
KRITIK TERHADAP PANDANGAN KARL MARX
Namun, apakah pandangan Karl Marx terhadap agama ini salah? Tentu saja tidak, setidaknya untuk sebagian pendapatnya. Untuk menilai pendapat ini, kita tidak bisa melepaskan latar belakang Marx sebagai seotang sosiolog. Sebagai seorang sosiolog, penilaian yang dilakukan Marx ini semata-mata adalah penilaian yang dianalisis secara empiris-objektif semata. Secara empiris berarti agama dianalisis berdasarkan data dan pengalaman-pengalaman yang konkret. Dan, secara objektif berarti agama 'dibedah' menurut apa adanya (das Sein) bukan menurut apa yang seharusnya (das Sollen).
Agama bagaikan pisau bermata dua, pernyataan ini sepertinya dapat kita gunakan dalam memahami hal ini. Di satu pihak, agama telah memajukan peradaban manusia, yakni menghormati kehidupan, menjunjung kemanusiaan universal, dll. Namun di lain pihak, agama telah menimbulkan berbagai macam perpecahan, peperangan, kekacauan, konflik, dll.
Memang benar apa yang telah dinyatakan oleh Karl Marx, bahwa agama dapat memberikan kelepasan kepada seseorang dari tekanan ekonomi dengan nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang dipeluknya dan boleh jadi nilai-nilai dan kepercayaan keagamaan itu mempunyai efek seperti obat bius. Namun, pada waktu yang sama, agama telah memberikan makna yang sangat berarti pada kehidupan manusia, bahkan makna tersebut dapat memicu manusia untuk semakin berkembang. Max Weber membuktikan bahwa kebangkitan ekonomi di Eropa Barat mempunyai hubungan yang erat dengan agama (dalam hal ini adalah calvinisme). Weber menyatakan bahwa orang-orang yang mengalami keberhasilan dalam bidang ekonomi di Eropa Barat umumnya adalah orang-orang Calvinis. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan akan hubungan antara agama dan kemajuan ekonomi.
KESIMPULAN
Jadi, jika kita ditanya, "Apakah agama adalah candu bagi masyarakat?" Tentu kita akan berkata "tidak". Namun, jika kita ditanya, "Apakah agama DAPAT MENJADI candu bagi masyarakat?" Kita dapat berkata "Ya". Apa yang diungkapkan Karl Marx bahwa "agama adalah candu bagi masyarakat" adalah benar, walaupun hanya sebagian. Fakta yang diberikan Max Weber, membuktikan bahwa agama dapat memicu perkembangan ekonomi di Eropa Barat, setidaknya telah mematahkan pendapat Karl Marx itu. Akhirnya, pepatah "agama bagaikan pisau bermata dua" tidak bisa kita hindari. Menjadi candu atau tidaknya sebuah agama tergantung dari interprestasi masing-masing individu. Menjadi candu atau tidaknya sebuah agama berada di dalam 'tangan' kita masing-masing.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusOpini itu kan semacam pendapat seseorang individual "manusia" Belum bs dipastikan jika Opini tersebut benar dan jg belum tentu Agama menjadi hal yg buruk contohnya jika terlalu memperdalam agama / kepercayaan dengan penalaran yg kurang mungkin seseorang tersebut bs bersikap munafik jd kesimpulan maksud sy ini adalah Bagaimana pun dan Bermacam-macam agama /kepercayaan yg ada semua kembali tergantung pada pemikiran seseorang tersebut
BalasHapus