"Bangunlah kaum yang terhina.
Bangunlah kaum yang lapar,
Kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar"
Bangunlah kaum yang lapar,
Kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar"
Itulah penggalan lirik dari salah satu lagu yang sering saya nyanyikan, Internationale. Di suatu hari, saat saya sedang asyik menyanyikan lagu tersebut, ada seorang teman saya yang berkata, "Woy! Lu ngapain nyanyi lagu itu?!? Lu Komunis ya?!?". Namun, benarkah pernyataan teman saya ini, bahwa lagu Internationale adalah lagu komunis? Mari kita lihat pernyataan Soekarno ini:
“Apa lagu Internasionale itu hanya dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee, PKI ! God dorie! (bahasa Belanda. Jika di artikan, kurang lebih artinya seperti: Astaga) Lagu Internasionale dinyanyikan di London, di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow, di Peking, di Tokio. Pendek, dimana-mana ada kaum buruh mengadakan serikat, menyanyikan lagu Internasionale.”
(dikutip dari buku « Revolusi belum selesai , jilid II, halaman 313).
Pernyataan Soekarno di atas membuktikan bahwa lagu "Internationale" bukanlah lagu bagi orang komunis saja, namun lagu bagi "Seluruh buruh!". Namun, apakah lagu Internationale itu? Dan, mengapa lagu ini sering dicap negatif?
SEJARAH LAGU "INTERNATIONALE"
Internasionale awalnya ditulis dalam bahasa Prancis dengan judul: "L’Internationale". Lagu Internationale ini ditulis oleh seorang buruh kayu asal Prancis, Eugène Pottier. Eugène menulis syairnya enam bait. Lagu ini dipublikasikan pada tanggal 30 Juni 1871.
Eugène Pottier sendiri adalah anggota Komune Paris yang terkemuka, yang merupakan pemerintahan klas buruh yang pertama kali di dunia, yang berkuasa selama 72 hari di Prancis . Eugène Pottier menciptakan lagu "L’Internationale" itu pada saat sebulan sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, atau menurut Lenin, “boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah......”.
Syair Internationale terinspirasi oleh kemenangan Komune Paris, selama 72 hari. Inti lagunya menyatakan, kelas-kelas tertindas dan terhisap di dunia harus berjuang dan merebut hak-haknya dengan bersandar pada kekuatannya sendiri serta menciptakan dunia yang lebih adil. Mulanya Internasionale dinyanyikan oleh berbagai kelompok antikapitalisme dengan berbagai kecenderungan ideologi. Internationale kemudian diadopsi oleh Internasionale II dan menjadi anthem Uni Soviet sejak 1922-1944.
L’Internationale telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia. Ada bahasa Inggris, Spanyol, Afrika, Arab, Melayu, Indonesia, dll. Diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Internationale, ke bahasa Arab menjadi Nasyidu al-Umamiyah, ke bahasa Belanda menjadi De Internationale, dan ke bahasa Indonesia menjadi Internasionale.
MASUKNYA LAGU INTERNATIONALE KE BUMI NUSANTARA
Internasionale sudah dikenal luas di Indonesia sejak tahun 1920-an. Terjemahan pertama ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara. Hasil terjemahan Ki Hadjar Dewantara tersebut kemudian dipublikasikan dalam Sinar Hindia No. 87, 5 Mei 1920. Di surat kabar tersebut pula, dalam nomor penerbitan yang sama, Dewantara menerjemahkan Marsch Socialist. Publikasi dua terjemahan tersebut dimaksudkan untuk memperingati 1 Mei, sebagai “Hari Raja oenteok segala kaoem Socialist”. Akan tetapi, terjemahan itu dicela oleh Komunis Internasional karena dianggap telah menghilangkan roh proletariat.
Dari terjemahan Ki Hajar Dewantara, Internasionale tersebar di kalangan gerakan rakyat. Lagu tersebut bersama lagu "Darah Rakyat" kerap dinyanyikan di sekolah-sekolah yang dibangun oleh kaum pergerakan, meramaikan pemogokan dan rapat-rapat umum. Dengan merujuk pada hasil terjemahan Ki Hajar Dewantara dan mengubah beberapa kalimatnya, PKI menetapkan Internasionale sebagai mars partai.
PENUTUP
Melihat hal itu semua, maka kiranya untuk selanjutnya di Indonesia pun lagu Internasionale juga perlu dipakai sebagai pembangkit semangat perjuangan gerakan buruh, dan mendorong persatuan serta menggalang setiakawan dalam melawan segala macam ketidak-adilan dan pemerasan oleh kalangan kapitalis reaksioner nasional maupun internasional, yang bersekongkol dengan para penguasa. mengumandangkan lagu Internasionale merupakan penghormatan kepada pengorbanan para Digulis yang banyak meninggal di pembuangan Tanah Merah dan para perintis kemerdekaan lainnya. Menyanyikan lagu Internasionale bisa juga berarti menunjukkan sikap marah dan kebencian terhadap segala bentuk ketidakadilan. Di samping itu, mengumandangkan lagu Internasionale juga berarti ikut melestarikan jiwa perjuangan revolusioner Bung Karno.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar